Menyelisik Tradisi Nyadran Kali di Desa Kandri Semarang

Tradisi Nyadran Kali - Desa Wisata Kandri - Gunungpati Semarang Jawa Tengah - Vega Viditama 2
Nyadran Kali, sebuah tradisi unik yang ada di Desa Kandri Semarang. (Gambar: Vega Viditama)

Tradisi Nyadran Kali merupakan tradisi unik warga Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, Jawa Tengah. Lokasi Desa Wisata tersebut berada 30 menit dari pusat kota Semarang.

Tradisi tahunan Nyadran Kali merupakan ungkapan rasa syukur atas ketersediaan air yang melimpah. Sumber mata air melimpah di desa Kandri itu bernama Sendang Gede.

Kapan tradisi ini dilaksanakan? Tradisi ini diakukan setahun sekali pada penanggalan Jawa pada hari Kamis Kliwon bulan Jumadil Akhir. Atau kalau dalam penanggalan Masehi di tahun ini tepat jatuh pada Kamis, (30/01/2020) kemarin.

Baa juga:
* Es Puter Conglik, Sajian Segar Menggoda Semarang Kala Malam

Ratusan warga desa Kandri, Kamis ini, melakukan arak-arakan dari Sendang Lanang menuju Sendang Gede. Menempuh jarak sekitar satu kilometer, mereka mengarak kepala kerbau, jadah, peralatan tradisional dan gunungan buah-buahan.

Saat arak-arakan sampai di depan Gapura Sendang Gede, Tarian Matirto Suci dipersembahkan. Tarian ini adalah hasil kreasi Warga Kandri. Para penari berjumlah sembilan orang. Masing-masing membawa periuk tembikar yang di dalamnya terdapat bunga.

Selanjutnya sembilan penari memasuki gapura menuju ke Sendang Gede, diikuti dengan juru kunci sendang, Ki Ahmad Supriyadi. Disusul dari belakang , arakan yang membawa kepala kerbau dan Gong yang kemudian diletakan di sebelah kali/sungai.

Foto Gambar Nyadran Kali - Desa Wisata Kandri - Gunungpati Semarang Jawa Tengah - Vega Viditama
(Gambar: Vega Viditama)

Selanjutnya, para penari mengambil air dari Sendang Gede. Lalu disatukan dengan air dari 6 (enam) sumber mata air lainnya. Yaitu air dari Sendang Jambu, Sendang Pancuran, Sendang Nggawi, Sendang Lanang, Sendang Getas dan Sendang Tanjung yang diambil semalam sebelum.

Ketujuh air yang berasal dari tujuh sendang tersebut disiramkan ke ladang jagung dan persawahan di Desa Kandri. Air sendang sebagai simbol sumber kesuburan tanah desa.

Apa ya makna dari tradisii ini? Juru Kunci Sendang Gede, Ki Ahmad Supriyadi menuturkannya.

Nyadran Kali adalah sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Bersyukur atas limpahan karunia, berkah, keselamatan dan kesejahteraan yang diterima kepada warga selama setahun.

Ki Ahmad Supriyadi bercerita, pada zaman kakeknya sebelum ada Sendang Gede sekitar tahun 1800 an di sekitar kali tersebut terus mengalir mata air yang besar. Kejadian tersebut, membuat takut warga, Desa Kandri bisa menjadi rawa.

Sesepuh Desa Kandri memberikan tumbal berupa kepala kerbau, jadah (makanan olahan dari beras ketan) dan alat tradisional untuk menutup mata air.

“Setelah mata air itu mengecil maka di sekitar kali dibuat Sendang Gede sebagai sumber kehidupan Desa Kandri.” ujar Supriyadi.

Gambar Ritual Nyadran Kali - Desa Wisata Kandri - Gunungpati Semarang Jawa Tengah - Vega Viditama 3.jpg
(Gambar: Vega Viditama)

Dalam akhir prosesi Nyadran Kali warga melakukan tumpengan dengan beralaskan daun pisang di sekitar sungai dan sepanjang jalan Gapura Sendang Gede. Mereka memanjatkan doa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lalu ditutup dengan makan bersama sebagai simbol kerukunan dan gotong royong.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari pun mengapresiasi acara ini. Dikatakannya bahwa, Pemerintah Kota Semarang mendukung penuh ritual budaya ini agar menjadi paket atraksi wisata yang mendatangkan wisatawan.

Desa Wisata Kandri telah memiliki akses jalan aspal dan beton yang bagus. Juga tersedia akomodasi berupa homestay yang dikelola warga bersama pokdarwis.

“Potensi tersebut menurutnya perlu dikembangkan tidak hanya untuk acara Nyadran Kali namun destinasi dan atraksi seni yang lain. Sehingga bersama desa-desa wisata lainnya bisa saling melengkapi.” Ujar Kadis yang akrab disapa mbak Iin ini.

Kepala Bidang Kesenian Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Semarang, Adhe Bakti juga turut memberikan komentar positif.

“Nyadran Kali akan dikreasi lagi tanpa meninggalkan pakemnya. Diperkuat promosi dan dikemas lebih menarik lagi bersama sama dengan destinasi wisata di sekitar Desa Wisata Kandri. Sehingga bisa menjadi suatu rangkaian pertunjukan yang menarik.” Ujarnya.

Untuk kamu ketahui, kegiatan prosesi ini tidak lepas dari peran aktif Pokdarwis Pandanaran di Desa Wisata Kandri sebagai koordinator pelaksanaan acara.

Baca juga:
* Anak Bajang Rambut Gimbal Dieng, Titisannya Para Leluhur

Menurut ketua Pokdarwis Pandanaran, Saiful Ansori, seluruh masyarakat Desa Wisata Kandri senang dan selalu siap mendukung acara budaya di Desa Kandri. Masyarakat ingin agar desanya semakin dikenal luas dan mendatangkan wisatawan.

(Kontributor: Vega Viditama)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here