PT SMF Salurkan Rp500 Juta Untuk Homestay di Mandalika

Pembiayaan homestay PT Sarana Multigriya Finansial - PT SMF - Bumdes Putri Nyale desa Kuta Mandalika
Foto bersama Direksi PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF) dengan Bumdes Putri Nyale desa Kuta Mandalika dan tamu undangan lainnya. (Foto: ist)

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika terus berbenah. Menjadi salah satu dari 10 destinasi super prioritas, kelengkapan akses, amenitas dan atraksi wisata, mendapat dukungan dari banyak pihak. Salah satunya, dukungan program pembiayaan homestay dari PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) – PT SMF.

PT SMF merupakan Badan Usaha Milik Negara, di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dengan kepemilikan saham 100% dari Kemenkeu. Program pembiayaan ini sinergi dari Kemenkeu, PT SMF dan Tim Percepatan Pengembangan Homestay Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Adapun pengalokasian dana pembiayaan, melalui dan dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Putri Nyale desa Kuta Mandalika.

Perjanjian kerjasama (MoU) Penyaluran Program Pembiayaan Homestay antara PT SMF dengan Bumdes Putri Nyale Kuta, ditandatangani hari ini, Kamis (24/10/2019), di halaman Balai Desa Kuta, Lombok Tengah (Loteng).

Direksi PT. Sarana Multigriya Finansial, Trisnadi Yulrisman, menyampaikan apresiasi tentang Desa Kuta sebagai penerima pertama program bantuan PT SMF di luar Pulau Jawa.

“Saya berharap dengan kehadiran program ini, lebih mengoptimalkan potensi pariwisata di Lombok, khususnya di Desa Kuta. Keindahan Lombok, sudah sepantasnya semakin ditingkatkan. Agar pengunjungnya tidak hanya datang sekali saja, tetapi bisa berkunjung kembali,” urai Trisnadi Yulrisman.

Trisnadi Yulrisman menambahkan, PT SMF masih terbuka dengan pengajuan proposal-proposal pembiayaan. Proses pengajuan, verifikasi dan pencairan, melalui Bumdes Putri Nyale desa Kuta.

“Sasaran program di Mandalika, tidak terbatas hanya di kawasan Mandalika. Tidak menutup kemungkinan, daerah-daerah penyokong Mandalika bisa menerima program ini,” pungkasnya.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Anneke Prasyanti, mengingatkan pentingnya menonjolkan nilai-nilai kearifan lokal Mandalika. Wisatawan yang kini lebih trending dengan sebutan ‘traveler’, cenderung lebih menyukai hal-hal spesifik dari destinasi yang dikunjunginya.

“Kenangan liburan yang berkesan akan menetap lebih lama, dibandingkan koleksi foto liburan yang memiliki risiko hilang. Itu pula sebabnya saya selalu mengingatkan untuk mempertahankan nilai-nilai lokal. Baik itu di akomodasi (homestay) atau juga event-event pariwisata.” Jelas Anneke

“Seperti acara penandatanganan MOU hari ini. Hiburan adalah kesenian khas desa Kuta sendiri. Demikian juga kulinernya,” lanjutnya.

Dee homestay, salah satu dari sekitar 7 homestay penerima pembiayaan PT SMF.

Pengelola Dee Homestay, Anung, menyebutkan wisatawan Australia merupakan tamu terbanyaknya di tahun 2019. Tarif mulai dari 80 ribu rupiah di low season (biasanya di musim hujan, Oktober dan November), sampai 150 ribu rupiah per kamar.

“Rate ini sangat disukai para backpacker atau tamu yang menyukai trip rombongan. Khusus grup besar ini, Dee Homestay sediakan kamar bunkbed untuk 8 orang. Dua platform booking online yang sering digunakan, yaitu Hostelworld dan Booking.” Jelas Anung.

Sedangkan Sekretaris Bumdes, Satriawan, sangat bangga bisa menjadi mitra PT SMF. Ia menyebutkan, dari total dana 500 juta dialokasikan, sebagiannya disisihkan untuk revitalisasi infrastruktur homestay.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran program ini. Dokumen-dokumen yang disyaratkan juga tidak terlalu sulit. Yang utama, keringanan bunga sebesar 3 persen dengan masa pengembalian juga sesuai kemampuan penerima program,” ujar Satriawan.

Desa Kuta terpilih menjadi daerah penerima program pembiayaan PT SMF, setelah sekitar 10 bulan melewati berbagai proses pertimbangan. Untuk ini, Trisnadi Yulrisman mempersilahkan pokdarwis di Lombok berkunjung ke Bumdes Putri Nyale desa Kuta. Terutama untuk yang tertarik mengetahui lebih detail program pembiayaan PT SMF.

Turut hadir dalam acara penandatangan MoU ini, antara lain; Kasubdit Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kepala Desa Kuta, dan pengurus Bumdes Putri Nyale Kuta.

Kontributor: Muslifa Aseani – GenPI LS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here