Menapaki Puncak Tertinggi Sulawesi di Gunung Latimojong

Untuk para pendaki Gunung pasti sudah tidak asing lagi untuk menapaki Gunung Latimojong ini. Pendakian yang menantang serta disuguhkannya pemandangan yang sangat indah akan membuatmu sangat terpesona dan puasa ketika sampai di puncak tertinggi Gunung Latimojong. Nantinya kamu juga dapat melihat pesona keindahannya dari pos ke pos saat pendakian.

Gunung Latimojong adalah salah satu gunung tertinggi di Indonesia yang masuk dalam kategori tujuh gunung tertinggi (Seven Summits of Indonesia). Gunung Latimojong memiliki banyak puncak yaitu, Puncak Sikolong, Buntu Sinaji, Bajaja, Nenemori, Latimojong, dan Rante Kambola. Namun terdapat puncak yang paling tinggi berada di 3.478 mdpl yang dikenal dengan sebutan Rante Mario. Pegunungan Latimojong ini adalah gunung tertinggi yang terletak di Sulawesi tepatnya berada di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Pendaki dapat memulai pendakian dari Dusun Karangan, Enrekang. Namun, untuk sampai ke desa tersebut, kamu harus melewati jalur pendakian yang cukup menantang sekitar 2-4 jam perjalanan, hal ini tergantung dengan kondisi cuaca dengan jarak tempuh sekitar 27 KM. Sehingga lebih disarankan jika ingin ke Gunung Latimojong ini sobat genpi dapat mencari tahu terlebih dahulu musim yang ada disana, sebaiknya datang pada saat musim kemarau.

Perjalanan menuju Desa Karangan ini harus menggunakan Mobil Jeep ataupun Mobil Truk pengangkut barang, karena medan perjalanannya sangat menantang. Dimana kamu akan melewati jalan yang berlumpur. Apalagi jika sobat genpi datang dan berkunjungnya ketika kondisi sedang hujan atau memasuki musim hujan. Hal ini tentu akan membutuhkan perjuangan yang lebih untuk dapat sampai ke Gunung Latimojong.

Untuk sewa Mobil Jeepnya kamu dapat mengeluarkan uang sekitar Rp 1.800.000 dengan jumlah 14 orang penumpang. Namun, untuk Mobil Truk pengangkut barang jauh lebih murah. Tapi kendaraan tersebut hanya tersedia di hari pasar pada hari Senin dan Kamis saja.

Ketika sudah sampai di Desa Karangan kamu harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu di simaksi ke pos yang terdapat di pintu masuk, serta membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000/orang untuk wisatawan lokal dan Rp 50.000/orang untuk wisatawan asing. Kamu harus menyimpan tiket masuk yang diberikan, karena nanti akan dikembalikan saat turun atau selesai mendaki. Jika tiketnya hilang kamu harus membayar denda sebesar Rp 10.000.

Gunung Latimojong ini terdapat 7 pos, nantinya disetiap pos kamu dapat beristirahat dan mendirikan tenda. Untuk sumber air yang berlimpah saat memasuki Pegunungan Latimojong ini hanya terdapat di pos 2,5 dan 7. Di setiap pos memiliki keindahan tersendiri mulai dari pos 1, kamu akan melihat pemandangan hamparan kopi milik warga sekitar. Kemudian masuk pos 2 sensasi udara yang dingin mulai terasa menyelimuti seluruh tubuhmu.

Selanjutnya ketika memasuki pos 3, pos ini dapat dikatakan pos yang paling ekstrim dimana jalananya yang terjal hanya dengan bantuan seutas tali rotan serta terdengar suara gemericik air sungai tepat dibawahnya. Dari pos 3 hingga pos 6 tidak terlihat pemandangan karena tertutup oleh rimbunan kayu yang cukup menjulang tinggi. Sesampainya di pos 6 kamu akan disuguhkan pemandangan hutan lumut yang eksotis. Lalu, ketika memasuki pos 7 kamu dapat melihat pemandangan tanaman khas pegunungan.

Untuk pendakian menuju puncak Rante Mario ini dapat dikatakan cukup landai, namun karena jalurnya yang cukup panjang kamu membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak tertinggi di Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan.

Meskipun perjalanan yang dilalui tidaklah mudah, letih dan melelahkan namun semuanya akan langsung terbayar dengan lunas, ketika menikmati keindahan pemandangan yang menawan secara langsung di puncak Rante Mario ini.

Sumber:
https://makassar.terkini.id/keren-gunung-latimojong-masuk-kategori-seven-summits-of-indonesia/ https://sulawesitoday.com/2020/02/28/menapaki-gunung-latimojong-ini-potrait-keindahan-alam-di-puncak-tertinggi-sulawesi/
https://www.urmilamile.com/biaya-pendakian-gunung-latimojong/

Artikel ini ditulis oleh Nur Azizah, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Prodi Ekonomi Syariah, pada program magang Genpinas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here