Tradisi Palang Pintu, Kesenian Asal Betawi yang Semakin Langka

Sumber foto : megapolitan.okezone.com

Sobat Genpi pernah mendengar tentang tradisi palang pintu asal Betawi? Jika belum, jangankan Sobat Genpi, hampir sebagian generasi muda Betawi saat ini memang jarang mengenal tradisi palang pintu yang ternyata sarat akan makna dan filosofi. Palang pintu biasanya digelar dalam upacara perkawinan yang menggabungkan kesenian silat dan seni pantun berlogat Betawi antara rombongan pengantin laki – laki dan pengantin perempuan.

Tradisi palang pintu sudah menjadi kesenian yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat Betawi. Pada pelaksanaannya, palang pintu menggabungkan dua kesenian sekaligus: silat Betawi dan pantun. Setiap perkawinan adat Betawi, kesenian palang pintu bisa dibilang sebagai pembuka menuju acara inti. Di sini, masing – masing rombongan pengantin laki – laki dan penganti perempuan akan beradu jawara (pemimpin palang pintu) dalam hal bela diri, berpantun, dan tak lupa kepiawaian dalam mengaji.

Di mata masyarakat Betawi, kesenian palang pintu dilakukan sebagai cara menghalangi orang lain ketika memasuki daerah tertentu dan di sanalah terdapat jawara yang siap menghadang. Masing – masing jawara akan melakukan bela diri  kemudian dilanjutkan dengan aksi berbalas pantun dan diakhiri dengan menunjukkan keahlian masing – masing dalam hal membaca Al Quran. Secara filosofis, aksi tersebut mencerminkan prosesi penerimaan orang tua calon pengantin atas lamaran dari pihak laki – laki terhadap pihak perempuan.

Tidak ada catatan pasti terkait kapan tradisi palang pintu bermula. Menurut berbagai cerita yang berkembang, tradisi palang pintu sudah dilakukan oleh tokoh Betawi, Pitung yang hidup pada awal abad ke-19. Saat itu ia melakukan palang pintu ketika hendak mempersunting Aisyah yang merupakan putri dari jawara legendaris asal Kemayoran, Murtadho. Dengan kelebihan yang dimiliki, akhirnya Pitung berhasil menjadi palang pintu dan melamar Aisyah sebagai pendamping hidupnya.

Sobat Genpi, seiring dengan berkembangnya zaman, tak jarang berdampak terhadap tradisi palang pintu yang keberadaannya sudah sangat langka. Sebagian generasi muda saat ini seakan sudah lupa dengan kesenian tersebut. Fenomena yang ada, generasi muda Betawi belum tentu memahami makna dan filosofi yang ada di balik tradisi palang pintu. Pada akhirnya, keberadaan kesenian tersebut bisa terancam.

Beruntungnya, di tangan Musa Dadap kesenian palang pintu bisa bersinar kembali dengan didirikannya kelompok kesenian palang pintu bernama Sanggar Serumpun Padi. Menurutnya, saat ini masyarakat Betawi tidak banyak yang menjalankan tradisi ini. Berbeda dengan zaman dahulu setiap calon pengantin diharuskan menggelar palang pintu dan diwajibkan untuk membawa aneka ragam hasil bumi maupun uang yang dimasukkan ke dalam sebuah dandang dan selanjutnya akan diberikan kepada calon pengantin perempuan.

“Dandang itu kemudian diterima dan dibawa centengnya (jawaranya calon perempuan-red) pakai kain yang diikat ke dandang untuk dibuka oleh sang jawara dari pihak laki – laki sebagai syarat sebelum menerima calon pengantin pria, dan terjadilah pertarungan yang disebut sebagai palang pintu,” tutur Musa dilansir dari Megapolitan.okezone.com Rabu (30/9/2020).

Semenjak kecil, Musa sudah dikenalkan dengan kesenian ini. Ia kerap berlatih palang pintu bersama leluhurnya dengan menyebut sebagai latihan ‘main pukul’ atau bagi dirinya juga sering menyebut sebagai ‘silat koplek’. Menurutnya, tradisi ini adalah warisan asli yang ada di Kampung Setu, Ciganjur, Jakarta Selatan.

“Dulu kita enggak ada nama (sanggar) latihan aja ‘main pukul’, kalau nama Sanggar Serumpun Padi ini baru jalan 3 tahun tapi kalau permainan adu pukul atau kita nyebutnya silat koplek dari saya kelas 4 SD udah main koplek karena warisan leluhur,” tutur Musa dilansir dari Megapolitan.okezone.com Rabu (30/9/2020).

Menurut Musa, keberadaan sanggar palang pintu di Jakarta sudah jarang ditemukan. Selain itu yang membuatnya semakin khawatir adalah semakin turunnya minat generasi muda untuk berlatih dan melestarikan kesenian palang pintu. Di satu sisi, Musa sangat bersyukur karena di Sanggar Serumpun Padi yang ia kelola beranggotakan 112 orang yang terdiri dari usia anak – anak hingga dewasa. Dalam segi pengajaranpun Musa menyesuaikan dengan kemampuan dan lebih menonjolkan sisi hiburan supaya tidak bosan.

Satu harapan Musa untuk kesenian palang pintu asli Betawi adalah dirinya ingin terus berkontribusi dalam menjaga tradisi leluhurnya tersebut hingga membawa manfaat terhadap generasi penerus selanjutnya. Salah satu tujuan yang ia kejar saat ini adalah membawa nama kesenian palang pintu tidak hanya untuk sisi hiburan tetapi juga lihai dalam mengejar prestasi.

“Setiap latihan, kita teman – teman yang baru, saya selalu bilang kalian itu latihan jangan sekedar latihan, tapi resapi dan jadikan hobi dan jadi penerus saya. Kalau dulu memang kita batasin hanya lingkup keluarga, sekarang kita buka umum siapa saja yang mau latihan tradisi ini boleh berbeda dengan dulu zaman saya belajar yang hanya membolehkan bagi anggota keluarga atau sodara, sekarang tidak,” ucap Musa dilansir dari Megapolitan.okezone.com Rabu (30/9/2020).

Bagaimana Sobat Genpi tertarik mengetahui lebih dalam dan belajar berlatih kesenian palang pintu asli Betawi?

Sumber:

https://megapolitan.okezone.com/read/2019/02/15/338/2018647/hikayat-palang-pintu-tradisi-betawi-yang-sarat-makna.

Ditulis oleh Lukman Hakim, Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Ahmad Dahlan, Program Internship Genpinas tahun 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here