Tradisi Cuci Negeri Soya Bersihkan Hati Bersihkan Negeri

Advertisement
Pelaksanaan Upacara Cuci Negeri Soya IG @wartaevent
Kemeriahan pelaksanaan upacara ‘Cuci Negeri Soya’. (Foto: IG @wartaevent)

“Pada momen Adat Cuci Negeri ini, saya selaku Upulatu Soya mengajak Masyarakat Soya untuk bersihkan hati, jalan dengan lurus untuk memutuskan segala sesuatu yang baik demi membangun Negeri ini kedepan,”
– Raja Soya

Provinsi Maluku sering disebut sebagai Bumi Seribu Pulau dan Kepulauan Rempah. Kekayaan dan keindahan alamnya telah sejak lama membuat wilayah ini dikenal secara global. Pada masa lampau, Maluku menjadi poros perdagangan rempah dunia.

Namun tak hanya kaya akan kekayaan alam, namun budaya dan tradisi di Provinsi Maluku ini juga tidak kalah unik. Salah satunya adalah tradisi Cuci Negeri.

Tradisi ini berlangsung di beberapa wilayah di Ambon, Maluku. Salah satunya adalah negeri Soya.

Baca juga:
* Foto-foto Pengkuhan Raja Negeri Rutong di Maluku

Asal Usul Tradisi Cuci Negeri Soya

Negeri Soya adalah salah satu negeri Adat pinggir kota Ambon. Selain dikenal dengan puncak Gunung Sirimau, daerah ini juga dikenal dengan Tradisi Cuci Negeri.

Tradisi ini dilakukan masyarakat setempat dengan tujuan membersihkan negeri secara gotong royong.

Konon tradisi Cuci Negeri Soya ini telah ada sejak dahulu kala. Dikisahkan bahwa upacara ini didasarkan atas legenda mengenai seekor naga yang kembali bersama datuk-datuk ke tempat dimana mereka hidup.

Legenda tersebut sangat diyakini oleh para leluhur. Mereka percaya, waktu yang ditetapkan saat melaksanakan Cuci Negeri merupakan saat dimana tiupan angin akan membawa serta arwah para datuk.

Arwah datuk-datuk ini akan datang bersamaan dengan tiupan angin barat. Dipercaya bahwa arwah para datuk-datuk/leluhur ini akan kembali dari tempat peristirahatannya ke tempat dimana mereka hidup.

Waktu Pelaksanaan Tradisi Cuci Negeri Soya

Tradisi Cuci Negeri Soya ini dilakukan pada bulan desember, tepatnya minggu kedua. Hal ini didasari pada pengetahuan adatis leluhur Negeri Soya.

Mereka meyakini bahwa bulan Desember adalah saat permulaan musim barat atau waktu dimana angin darat mulai bertiup.

Bertiupnya angin barat ini juga timbul sehabis musim timur, yang merupakan musim hujan. Umumnya saat musim timur, curah hujannya sangat tinggi.

Sehingga menyebabkan tanah longsor, kerusakan rumah dan beberapa properti, sumur-sumur yang kotor, dan sebagainya.

Hal tersebut kemudian baru dapat dibersihkan, dibetulkan, dan diperbaharui saat musim barat tiba.

Dengan alasan kedatangan arwah para leluhur pula, maka upacara Cuci Negeri Soya ini dilaksanakan pada bulan Desember.

Pelaksanaan Tradisi Cuci Negeri Soya

Tradisi Cuci Negeri Soya ini dilakukan setiap tahun untuk menjaga keseimbangan alam sebagai ruang kehidupan bagi manusia.

Pada 2018 lalu, saat pelaksanaan Cuci Negeri Upulatu Soya atau Raja Negeri Soya menyatakan bahwa Upacara Cuci Negeri Soya bukan sekadar membersihkan negeri.

Tradisi Cuci Negeri Soya ini dimaksudkan untuk menyucikan diri masyarakat. Membersihkan dari perasaan perseturuan, kedengkian, curiga-mencurigai, dan sebagainya.

Hal ini disimbolkan dengan turunnya masyarakat untuk mencuci tangan, kaki dan muka di air Wai Werhalouw dan Unuwei.

Membersihkan negeri sekaligus membersihkan diri dan hati merupakan inti dari pelaksanaan Upacara Cuci Negeri Soya ini.

Sebagaimana disebutkan oleh Upulato Soya, bersihkan hati dan berjalan dengan lurus demi membangun Negeri Soya.

Sebelum upacara Cuci Negeri dilakukan, dilakukan rapat Saniri sebagai persiapannya. Acara ini wajib diikuti seluruh masyarakat desa sesuai dengan perintah raja yang diumumkan oleh tua adat.

Sobat GenPi, mari kita lihat bagaimana pelaksanaan Upacara Cuci Negeri Soya ini melalui video di bawah.

Pada malam hari, seorang lelaki akan meniup Bia untuk menarik perhatian warga. Kemudian barulah disampaikan perintah raja agar membersihkan negeri.

Masyarakat Negeri Soya kemudian akan melakukan sesuai apa yang diumumkan, yakni membersihkan negeri atau Cuci Negeri Soya.

Setelah pembersihan, akan dilakukan upacara adat yang disebut acara puncak Cuci Negeri.

Dalam upacara ini, seorang Ibu akan menyambut raja dengan berkata “Tabea Upulatu Jisayehu,  Nyora Latu Jisayehu, Guru Latu Jisayehu, Upu Wisawosi, Selamat datang silahkan masuk”.

Upacara adat ini telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Desa Soya tahun demi tahun. Pelaksanaannya bukan hanya sekedar warisan budaya, tetapi juga untuk memelihara dan menghidupkan nilai-nilai positif kepada tiap generasi.

Pada saat pembersihan, biasanya akan ada permohonan yang dinaikkan kepada Ilahi. Permohonan tersebut berupa penyelamatan Negeri Soya beserta penduduknya dari bahaya dan penyakit.

Masyarakat yang memanjatkan, umumnya wanita dan orang tua, juga memohon kelimpahan berkah bagi semua orang.

Institusi adat berperan sangat besar dalam Upacara Cuci Negeri Soya ini, dimana tahun demi tahun pelaksanaannya tetap mengandung nilai adat dan nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakatnya.

Baca juga:
* Kohu Kohu Makanan Khas Maluku yang Nikmat dan Segar

Tradisi Cuci Negeri Soya ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2015 lalu.

Nilai persatuan, musyawarah, gotong royong, kebersihan, toleransi, bahkan nilai sejarah ditunjukkan oleh tradisi Negeri Soya ini.

(Penulis: Richmond Faithful, Universitas Terbuka, Peserta Magang GenPinas 2021)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here