Memang tidak ada habisnya jika kita membahas keragaman dan keunikan tradisi pada setiap daerah. Tidak sedikit tradisi-tradisi yang terbilang unik dan cukup ekstrim. Termasuk tradisi Adu Betis yang berasal dari Kecamatan Moncongloe, Bone, Sulawesi Selatan.

Nama lain dari tradisi ini adalah tradisi Mallanca. Mallanca berasal dari kata lanca yaitu menyepak dan menggunakan tulang kering yang sasaranya adalah ganca-ganca yaitu bagian kaki diatas tumit.

Baca juga:
* Appalettek Ballak, Tradisi Memindahkan Rumah di Sulawesi Selatan

(Sumber : Majalahjustforkids)

Tata Cara

Tradisi ini diselenggarakan di sebuah makam leluhur, yakni makam Gallarang Moncongloe, leluhur desa Moncongloe yang juga paman dari Raja Gowa, Sultan Alauddin. Sebelum tradisi berlangsung, akan diadakan acara makan besar.

Acara biasa digelar selama empat jam dengan empat pasang peserta. Tradisi ini dilakukan berkelompok dengan cara mengadu betis para pemainnya.

Adu betis ini dilakukan di dalam lingkaran besar. Dua pemain memasang kuda-kuda dan pemain lainnya menendang betis tersebut. Cedera memang tidak bisa lagi dihindari saat mengikuti Tradisi ini.

Adu Betis tidak memiliki pemenang, Karena tradisi ini hanya bertujuan mengetahui kekuatan setiap anggota.

Tradisi Adu Betis

Tradisi Adu Betis biasa dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Moncongloe untuk menyambut musim panen tiba pada bulan Agustus. Dan hanya dilakukan satu tahun sekali karena sawah di Moncongloe hanya panen setahun sekali.

Di bulan ini pula, masyarakat Bone sekaligus merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus.

Tujuan dilakukan tradisi adu betis ini sebagai wujud syukur masyarakat atas hasil panen yang didapatkan. Selain itu, tradisi ini diselenggarakan untuk mengingat jasa leluhur yang telah menjaga kerajaan Bone.

Tradisi ini memiliki makna yang mendalam jika kita cermati. Tradisi ini pun mengandung nilai-nilai yang bermanfaat jika diterapkan. Nilai-nilai itu diantaranya yaitu nilai kebersamaan yang tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat.

Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat istiadat dan budaya sama.

Baca juga:
*Ritual Mayat Berjalan Ma’nene di Tanah Toraja

Adu Betis pada dasarnya sebuah bentuk kearifan lokal untuk menjaga tradisi leluhur yang memiliki nilai solidaritas, patriotisme dan kebersamaan dengan masyarakat adat setempat. 

Penulis: Adithia Risma Rara Putri, Universitas Brawijaya, Peserta Magang GenPinas 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here