Toleransi dalam Festival Budaya Bauran Cap Golak

Sumber Foto: Miftahudin Mulfi

Tahun baru imlek merupakan tahun baru bagi saudara kita yaitu masyarakat Tionghoa. Setiap tahun baru ini selalu diikuti dengan berbagai perayaan. Salah satunya adalah Festival Cap Go Meh. Sebuah perayaan puncak tahun baru imlek yang biasa dilakukan dengan iring-iringan pertunjukan tradisional Tionghoa, seperti atraksi barongsai, liong, dan tetabuhan alat musik tradisional Tionghoa.

Akan tetapi, di Bandung lebih tepatnya di Kampung Jati, Jalan Manisi ada sebuah acara yang menyampaikan pesan toleransi, keragaman dan perdamaian dalam balutan sajian seni budaya. Yaitu festival Budaya Bauran Cap Golak.

Bauran di sini berarti Berbaur atau Campur, antara sesama kebudayaan, masyarakat, seniman, dan pemerintah. Sehingga terjadi sinergitas bersama dan adanya sikap untuk saling menghargai dalam keberagaman.

Selain itu, Cap Golak merupakan plesetan dari kata Cap Go Meh. Golak dalam bahasa Sunda berarti bergemuruh. Karena pada saat festival banyak keramaian masyarakat yang ikut serta menyaksikan festival ini. Serta adanya tetabuhan alat musik tradisional Sunda.

Sumber Foto: Miftahudin Mulfi

Festival Bauran Cap Golak biasanya dilakukan pada akhir bulan Februari setelah puncak perayaan tahun baru imlek dilaksanakan. Kita akan melihat dua kebudayaan yang berbeda, Tionghoa dengan seni barongsai dan liongnya. Sedangnkan Sunda dengan seni reak, debus, kuda lumping, dan berbagai atraksi lainnya. Menjadi satu daya tarik adalah, wisatawan ikut serta dalam kemeriahan festival ini.

Sebelum festival ini dimulai, dilakukan upacara penyambutan Kadisbudpar Kota Bandung menggunakan kuda renggong dari parkiran menuju tempat acara. Dilanjutkan dengan upacara pembukaan dengan seni tari tradisional dan teatrikal oleh seniman Kota Bandung.

Setelah upacara selesai, di ujung tempat acara terdengar nyaring instrument suara yang dinamis dan mistis dari alat musik tradisional Sunda. Seperti kendang, terompet, calung dan lainnya yang digunakan sebagai latar kesenian reak, kuda renggong dan rajawali dengan anak kecil sebagai penunggangnya.

Mereka bersiap-siap untuk pawai berkeliling kampung supaya semua masyarakat dapat merasakan kemeriahannya. Ketika berlangsungnya pawai, di tempat acara dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan. Seperti barongsai, liong, tari tradisional dan seni teatrikal. Sambil menunggu yang pawai kembali ke tempat acara.

Ketika sudah kembali mereka langsung menampilkan atraksi seperti tarian kuda renggong, seni reak, debus, dan tarian rajawali yang hampir semua atraksi tersebut dilakukan dengan ekstrim.

Sumber Foto: Miftahudin Mulfi

Di festival tersebut kita dapat membeli merchandise yang dijual oleh warga sekitar. Seperti boneka barongsai, topeng, ikat kepala dan lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian warga sekitar. Karena hal kecil tersebut akan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup mereka.

Mayoritas masyarakat di sana adalah beragama Islam yang masih memegang teguh adat dan tradisi yang ada. Dengan adanya festival tersebut menjadi ruang pertemuan budaya sekaligus terjalin toleransi di lingkungan masyarakat dengan pendekatan seni budaya.

Ditulis Oleh :Miftahudin Mulfi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kelompok 10 Internship Generasi Pesona Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here