Romantika Pernikahan Bujang Gadis Suku Sasak Lombok

baju adat sasak lombok - @devina_wo 2
Budaya pernikahan Suku Sasak Lombok. Setelah melakukan prosesi Merariq, barulah lelaki dan permpuan suku Sasak bisa meneruskan ke jenjang pernikahan. (Foto ilustrasi: IG @devina_wo)

Ada satu budaya unik yang bisa kita pelajari saat liburan ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Satu tradisi dalam hal percintaan dan pernikahan, khususnya di kalangan Suku Sasak Lombok.

Mayoritas masyarakat di suku Sasak Lombok masih menjalani tradisi kawin lari (Merariq) sampai saat ini. Di Dusun Sade, seluruh penduduk melakukan kawin lari sesuai adat istiadat yang berlaku.

Tradisi Merariq ini bisa kita temukan di Dusun Sade, sebuah desa yang sudah terkenal di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca juga:
* Jokowi Kenakan Pakaian Adat Sasak, Netizen Ramai Berkomentar

Lokasi Dusun Sade

Dusun Sade - Desa Rembitan - Pujut - Lombok Tengah - @druld
Dusun Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. (Foto; Instagram @druld)

DUSUN Sade berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah. Lokasinya sangat strategis. Dari Bandara Internasional Lombok, hanya dibutuhkan waktu berkendara sekitar 20 menit. Tidak heran, hampir setiap hari dusun itu tidak pernah sepi pengunjung.

Di dusun ini, hukum adat suku Sasak masih dipertahankan hingga sekarang. Mulai dari rumah tempat tinggal, gaya berpakaian, upacara adat, termasuk tradisi pernikahan.

Dusun dengan lahan seluas 5,5 hektare tersebut juga sudah dikelola secara profesional. Mayoritas laki-laki di dusun itu bermata sebagai petani yang nyambi sebagai tour guide atau pemandu wisata. Mereka cukup ahli dan fasih dalam memandu setiap wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Harga Tiket Masuk Dusun Sade

Sade Village Lombok - @osiaosi
Sade Village Lombok. (Foto: @osiaosi)

Kalau berkunjung, baik secara individu maupun dalam grup, kamu akan diberikan seorang guide/pemandu. Tidak ada penetapan biaya untuk tiket masuk maupun tip bagi guide.

Besaran harga tiket masuk dan tips untuk guide, serba seikhlasnya. Karena itu, begitu memasuki kawasan Dusun Sade, kamu akan digiring untuk mengisi buku tamu sekaligus bale kotak amal. Baru setelahnya, kamu akan diajak berkeliling desa wisata Sade.

Sejarah Dusun Sade

Berdasarkan cerita leluhur dari turun temurun, dusunnya ada sejak 1079 Masehi. Nama Sade berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti obat. Di dusun itu terdapat 150 rumah dengan jumlah penghuni sekitar 730 orang.

Yang menarik, penduduknya bisa dibilang masih satu rumpun atau satu keturunan. Sebab, seluruh warga dusun selalu menikah dengan sepupu sendiri.

Tradisi / Budaya Pernikahan Suku Sasak Lombok

Ada satu hal yang jarang terjadi di daerah lain. Yaitu pernikahan Suku Sasak Lombok antarsepupu.

Tradisi menikah antar sepupu bertujuan mempertahankan tali keluarga. Di samping alasan keluarga, ada penyebab lain yang membuat warga Sade, terutama kaum laki-laki, tidak meminang gadis dari luar dusunnya, yakni mahalnya mahar yang harus dibayarkan bagi gadis dari luar dusun.

Sesuai dengan tradisi, bila berniat meminang gadis dari luar dusun, mereka harus membayar mahar seharga satu atau dua kerbau. Satu kerbau itu harganya sekitar Rp 20 juta. Kalau dia minta dua kerbau, jadi Rp 40 juta. Itu belum biaya untuk acara pernikahannya. Jadi, mereka menggagap jodoh sering terhalang faktor ekonomi.

Sedangkan jika menikahi sepupu sendiri, mahar cukup terjangkau. Maksimal Rp 2,5 juta. Kalau melebihi angka tersebut, si perempuan akan dikeluarkan dari adat. Kelebihan lain, besaran mahar tersebut bisa ditawar sampai kedua pihak sepakat.

Merariq

pohon cinta desa sade - @alyaegas
Pohon cinta di Sade. (Foto: IG @alyaegas)

Cara meminangnya pun harus sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. Dalam adat suku Sasak, proses pernikahan harus didahului dengan tradisi kawin lari atau menculik (merariq). Hingga saat ini, mayoritas suku Sasak masih menjalani tradisi itu.

Bedanya, prosesi Merariq di Dusun Sade masih sangat otentik alias tanpa pacaran. Karena mereka dilarang bertemu dengan orang yang disukai, kecuali di rumahnya dengan didampingi kedua orang tuanya.

Tapi dengan seiring berkembangnya zaman, laki-laki maupun perempuan yang tengah kasmaran di dusun tersebut sudah makin lihai. Mereka berupaya menyiasati larangan bertemu itu dengan berbagai cara. Salah satunya, meminta izin keluar untuk wudu dengan didampingi saudara kandung.

Disini kalau mau ambil wudhu harus pergi ke luar rumah. Biasanya, kalau sudah janjian dengan gadis yang disukai atau pacar untuk ketemuan di tempat tertentu.

Lokasi favorit muda mudi di sini adalah dekat pohon cinta. Letaknya di sebuah lorong sempit. Pohon yang dimaksud ternyata tak berdaun, hanya ada dahan kayu yang sudah gundul.

Lama Waktu Merariq

Selain itu, tidak ada budaya meminang atau melamar. Jika menyukai seorang perempuan dan berniat menikahinya, si laki-laki harus menculik perempuan tersebut. Biasanya, durasi penculikan bisa sampai tiga hari dua malam.

Penculikan itu harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi alias tanpa sepengetahuan orang tua si gadis. Jika ketahuan, si perempuan biasanya akan kembali diambil orang tuanya. Pernikahan pun tidak akan terjadi.

Agar prosesi penculikan berhasil, si laki-laki harus dibantu teman-temannya. Setelah diculik, si perempuan diinapkan di rumah si laki-laki. Meski telah diculik, si laki-laki sama sekali tidak boleh menyentuh si perempuan.

Nyelabar / Rebak Pepucuk

Tahap selanjutnya, pihak laki-laki mengutus dua orang yang disebut nyelabar atau rebak pepucuk. Utusan tersebut bertugas menyampaikan kabar kepada orang tua pihak perempuan bahwa anak gadisnya telah resmi diculik pihak laki-laki. Penyampaian kabar oleh utusan itu paling lambat tiga hari setelah si perempuan diculik.

Tujuannya untuk memberi tahu ke orang tuanya bahwa anaknya yang beberapa hari tidak pulang ke rumah itu bukan karena nyebur ke laut atau jatuh ke sumur, melainkan diculik. Kalau sudah ngomong seperti itu, orang tuanya sudah paham bahwa anaknya harus segera dinikahkan.

Hari berikutnya, dua utusan tersebut kembali datang ke rumah si perempuan untuk membicarakan wali yang akan ditunjuk guna menikahkan pasangan tersebut. Wali dari luar pihak keluarga dibutuhkan karena sebelum acara pernikahan, kedua pihak, baik orang tua si perempuan maupun laki-laki, tidak diperbolehkan untuk bertemu.

Biasanya, yang menjadi wali adalah ketua adat. Kalau sudah ketemu wali, hari ketiga membicarakan masalah beban (besaran mahar). Nah, di sini bisa sudah memulai prosesi tawar-menawar.

Sorong Serah Aji Krama

Pernikahan Suku Sasak
(Sumber: pariwisata.lomboktengahkab.go.id)

Tahapan terakhir adalah acara puncak, yakni prosesi pernikahan ala suku Sasak yang disebut sorong serah aji krama. Dalam upacara itu, rombongan keluarga besar dari pihak laki-laki mendatangi keluarga si perempuan dengan membawa gegawan atau semacam seserahan.

Acara pernikahan tersebut akan langsung diikuti acara budaya nyongkolan atau iring-iringan pengantin dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai perempuan. Acara arak-arakan pengantin itu biasanya diramaikan dengan musik gamelan, rebana, atau gendang beleq.

Setelah acara nyongkolan, baru kedua pihak boleh ketemu. Kalau mereka ketemu sebelum nyongkolan, nanti kena denda.

Percintaan Muda-mudi

Tradisi percintaan muda-mudi di Dusun Sade juga unik. Setiap perempuan muda boleh memiliki kekasih lebih dari satu. Makin banyak kekasih, si perempuan makin popular.

Cara para laki-laki menunjukkan rasa cinta juga cukup unik. Mereka biasanya akan mengunjungi kediaman si perempuan. Saat menerima tamu, si perempuan ditemani kedua orang tuanya. Bahkan, tidak jarang, datang tiga sampai lima pria sekaligus.

Yang menarik, buah tangan yang biasanya diberikan para pria kepada perempuan yang disukai juga tidak lazim. Saat hari lebaran, si laki-laki biasanya kasih sabun ke si perempuan. Kalau perempuan itu dapat sabun banyak, berarti populer. Nanti sabun itu dibagi-bagikan kepada tetangga.

Konon diceritakan, dulu ada seorang perempuan Dusun Sade yang bahkan sampai memiliki 27 kekasih. Kembang desa tersebut sampai saat ini masih hidup dan aktif menenun.

Tapi, si nenek ini malah tidak menikah dengan pria yang disukainya. Ini cerita didapat dari penuturan tour guide.

Nikah Usia Muda

Mayoritas penduduk Dusun Sade memang menikah di usia yang masih sangat muda, yakni 13–18 tahun. Bahkan, ada yang menikah di bawah usia 13 tahun. Akibatnya, banyak penduduk Dusun Sade yang putus sekolah.

Disini, kalau ada anak gadis usia 19 tahun belum menikah, sudah dianggap perawan tua.

Tapi, tidak semua orang tua lantas setuju ketika anaknya diculik. Biasanya, mereka mengamuk jika putrinya diculik di usia yang masih sangat muda.

Itulah tradisi yang bisa kalian lihat dan pelajari di Dusun Sade. Bila ada rencana ke Pulau Lombok, jangan lupa mencatumkan Dusun Sade sebagai tujuan liburan kalian di Lombok.

Baca juga:
* Pesona Wisata Berkuda di Lombok NTB

Bagaimana menurutmu, budaya pernikahan Suku Sasak Lombok ini?

Apa hal yang sama berlaku juga di daerah asalmu?

Ayo ceritakan tradisimu di kolom komentar 🙂

Kontributor: Lazwardy Perdana Putra

Disadur dari: http://pariwisata.lomboktengahkab.go.id/merariq-di-desa-sade/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here