Reog Ponorogo, Tarian Sakral yang Mendunia

Advertisement
foto gambar reog ponorogo - kompas.com
Reog Ponorogo. (Sumber foto: kompas.com)

Sebuah warisan budaya pasti mengandung unsur serta nilai-nilai luhur di dalamnya. Salah satunya adalah Reog Ponorogo dari Jawa Timur.

Tarian tradisional Reog Ponorogo ini identik dengan barongan harimau yang berhias bulu burung merak yang mengembang dan terus berputar-putar.

Di belakangnya, ada pasukan prajurit berkuda yang seolah ingin berperang. Ada pula penari topeng pujangganong, penari kelana sewandana, dan penabuh alat-alat gamelan.

Baca juga:
* Tari Topeng Kaliwungu Lumajang

Walaupun reog juga eksis di beberapa wilayah namun Ponorogo dianggap sebagai kota asal mula kesenian reog. Oleh sebab itu, Ponorogo dikenal dengan Kota Reog atau Bumi Reog.

Reog Ponorogo berasal dari kata ‘angreyok’ yang ditulis oleh pujangga Prapanca dalam Nagarakertagama.

‘Angreyog’ berhubungan dengan semangat dari prajurit, pertunjukkan tari reog, perang-perangan, dan juga pengetahuan militer kuno.

Kesenian reog diyakini sudah sangat tua. Akan tetapi, hingga saat ini reog masih bertahan walaupun ada penyesuaian dengan perkembangan zaman.

Asal Usul Reog

Penampilan Reog Ponorogo di Tahun 1956 (sumber: youtube.com)

Asal-usul dari reog Ponorogo memiliki banyak versi. Ada yang berkaitan dengan kepercayaan dari animisme tentang roh penjaga dan pelindung dari suatu wilayah.

Hal ini dikarenakan Ponorogo dulu masih berupa hutan belantara berwujud roh harimau.

Masyarakat daerah tersebut meyakini bahwa roh harimau dapat mengusir roh jahat dan menolak bala. Untuk mendatangkannya, mereka lalu melakukan upacara adat dengan menggunakan topeng sembari menari.

Dalam hal ini, tradisi tersebut lalu diwujudkan dalam bentuk kesenian reog.

Selain itu, ada juga asal-usul reog Ponorogo dengan latar kerajaan. Pertama, versi Wengker yang menceritakan Ki Ageng Kutu (Demang Suryongalam), abdi Kerajaan Majapahit.

Kisah ini menceritakan beliau yang membangun padepokan Wengker dan menciptakan kesenian reog untuk sindiran kepada Raja Brawijaya V.

Kedua, versi Batarangin yang mengirahkan lamaran Kelana Sewandana, raja Bantarangin, pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit.

Salah satu dari syarat lamaran adalah dibuatkannya gamelan dengan model terbaru dan manusia berkepala harimau.

Lima penari utama dalam tarian tradisional ini adalah Jathil, Warok, Barongan (Dadak Merak), Klono Sewandono, Bujang Ganong (Ganongan). Inilah yang kemudian menjadi inspirasi pada Tarian Reog Ponorogo.

Jenis Tari Reog Ponorogo

Dalam penampilan reog Ponorogo, terdapat tiga jenis tarian di dalamnya, yaitu tari pembuka, tari inti, dan tari penutup.

Tari Pembuka

Tarian pembuka dibawakan oleh delapan orang penari pria yang menggunakan kostum serba hitam dengan polesan warna merah di wajahnya. Para penari akan menjadi penggambaran dari sosok singa yang pemberani.

Tarian Inti

Setelah dilakukannya tari pembuka, maka dilanjutkan dengan tarian inti. Isi dari tarian inti bergantung pada acara apa yang akan diselenggarakan.

Seperti apabila acara yang diadakan adalah pernikahan, maka akan ditampilkan adegan percintaan.

Tarian Penutup

Pada tarian penutup akan diisi adegan topeng singo barong. Penari akan menggunakan topeng berbentuk singa yang sangat besar. Topeng singo barong ini dapat mencapai 60 kg.

Hal yang ekstrim adalah topeng singo barong dibawakan para penari dengan cara menggigit dengan giginya. Masyarakat percaya bahwa penari yang mampu membawa topeng ini memiliki kemampuan spiritual yang baik.

Baca juga:
* Tari Remo Jombang Penyambut Tamu

Hingga saat ini, tari reog Ponorogo terus dilestarikan oleh masyarakat dan bahkan sampai mendunia.

Tarian ini sering dibawakan di mancanegara, seperti Belanda, Amerika Serikat, dan Malaysia. Bahkan, Reog Ponorogo pun diusulkan menjadi Warisan Budaya UNESCO.

(Penulis: Nabila Cahya Pramita, Universitas Diponegoro, Peserta Magang GenPinas)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here