PASOLA LEGEND EPISODE 2 ⏳ PENANTIAN

Gambar Oleh : Anisa Umar Bamualim

Hidup terus berlanjut di Weiwuang.
Selepas kepergian Ubu Dulla dan saudara-saudaranya orang-orang kembali meniti hari-hari mereka. Penderitaan belum benar-benar pergi tapi tak lagi mendominasi. Penantian yang disertai harapan membawa gairah baru dalam hidup mereka yang sebelumnya tak pasti. Setidaknya kini ada yang dinanti.

Seperti yang lain, Rabu Kabba juga menanti dan terus berharap. Tapi penantianya lebih berat dan harapannya lebih dalam. Karena tidak seperti yang lain, ia bukan hanya menanti kembalinya seorang pemimpin yang akan datang membawa asa, tapi sekaligus kembalinya seorang suami yang akan datang membawa cinta.

Tapi adanya harapan akan datangnya kehidupan yang lebih baik menjadikan penantian itu tertahankan, setidaknya untuk sementara waktu. Sampai datang suatu masa tatkala hari-hari berganti bulan dan hitungan bulan semakin panjang, harapan itu pun perlahan-lahan mulai memudar.

Ubu Dulla, Ngongu Toumatutu dan Yagi Waikareri tak kunjung kembali, sekedar kabarpun tak ada. Bibit-bibit Kecemasan mulai muncul. Dan laksana virus kecil yang menular, kecemasan itu akhirnya menjangkiti semua orang dan paling parah menyerang Rabbu Kabba. Sejuta pikiran buruk menghantui benak perempuan cantik itu.

” Apa sesungguhnya yang terjadi? “
” Apakah kapal mereka dihantam badai? “
” Apakah mereka tersesat? “
” Apakah mereka terluka? “
” Apakah mereka ….. ? “

Rabbu Kabba mungkin bergidik, berusah menghalau kemungkinan terburuk yang tak ingin ia pikirkan.

Kecamasan yang kian memuncak mendorong orang-orang untuk membuat keputusan. Ini bukan lagi tentang harapan yang mungkin tak terwujud tapi tentang pemimpin yang mungkin tak kembali. Jika mereka dalam bahaya harus ada yang menolong. Setidaknya harus ada kepastian tentang apa yang sesungguhnya sedang mereka alami.

Sejumlah orang mungkin ditunjuk untuk menjalankan misi pencarian, sebagian lain mungkin mengajukan diri sebagai relawan. Apapun itu yang jelas misi pencarian akhirnya dijalankan. Di suatu hari yg mungkin sama terik dan sama beranginnya dengan hari tatkala Ubbu Dulla bersaudara pergi dari Weiwuang, orang-orang ini berangkat. Mereka pergi. Mengarungi lautan yang sama, dengan perahu kecil yang sama, mungkin tiga, empat atau lebih dari itu, berpencar mengarungi nasib demi mendapatkan sebuah jawaban.

Hidup kembali terasa berat di Weiwuang.
Gairah akan harapan hidup yang lebih baik perlahan pupus digantikan harap-harap cemas mengenai takdir apa yang mungkin menimpa pemimpin mereka. Dan sudah pasti Rabu Kabba lah yang paling menderita. Perempuan itu mungkin menghabiskan hari-harinnya dengan menyibukan diri agar tak tenggelam dalam cemas. Mungkin ia memulai hari dengan mengambil air di sungai kecil yang mengalir di bawah kampung. Mencabuti rumput liar yang tumbuh diantara petak-petak sayur. Mengurus ternak-ternak kecil yang perlu diberi makan. Memasak, menenun dan entah apa lagi yang bisa mengalihkan pikiranya dari resah yang pekat. Dan di malam-malam sunyi, mungkin ia menghabiskan waktu dengan menangis dalam diam seraya memanjatkan seribu doa agar suaminya segera kembali.

Dan suatu hari kabar itu akhirnya datang “Perahu-perahu telah kembali!”

Mungkin hari itu matahari bersinar cerah dan laut tenang tak berangin sehingga siluet perahu-perahu itu tampak jelas di batas cakrawala. Mungkin seseorang melihatnya, lalu membawa kabar itu yang dengan cepat menyebar ke seluruh sudut kampung: “Perahu-perahu telah kembali!”

Didorong rasa penasaran orang-orang mungkin bergegas ke pantai untuk menyaksikan sendiri apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi, tak terkecuali Rabbu Kabba. Mungkin perempuan itu berdiri paling depan, menatap lekat ke arah bayang-bayang perahu yang semakin lama semakin terlihat jelas. Mungkin cemas dan harap memompa adrenalin membuat jantungnya bedetak semakin cepat. Mungkin tak lagi ia dengar suara ramai orang-orang. Dunia di sekelilingnya seakan menyusut menjadi sekedar bayang-bayang tak bermakna. Yang terpenting baginya hanyalah perahu-perahu itu, penumpangnya, dan kabar apa yang mereka bawa.

” Apakah Ubu Dulla selamat?”
” Apakah orang-orang itu berhasil menemukannya? “
” Apakah dia ada di sana, di atas perahu bersama yang lain?”

Pertanyaan-pertanyaan itu pasti tak terelakkan, datang silih berganti menyesakkan benak Rabbu Kabba. Perempuan itu mungkin merasa bagaikan berada dalam persidangan saat para saksi dicecar berbagai pertanyaan. Jawaban yang salah akan mendatangkan vonis yang sangat buruk bagi hidupnya.

Detik demi detik berlalu pergi membawa perahu-perahu itu semakin dekat ke bibir pantai. Dan sewaktu lunas-lunasnya menggores pasir dan orang-orang di atasnya melompat turun, satu pertanyaan terjawab sudah. Ubbu Dulla dan saudara-saudaranya tak ada di sana.

Kenyataan itu mungkin menghantam Rabbu Kabba bagaikan petir di musim hujan, membuatnya nyaris tersungkur. Jawaban yang sangat salah. Tapi vonisnya belum lagi ditetapkan, masih ada pertanyaan lain yang belum terjawab.

” Ubu Dulla telah ditemukan.”
” Dia belum kembali karena masih terhalang sejumlah urusan.”
” Dia baik-baik saja dan akan segera kembali.”

Mungkin itu jawaban yang ingin didengar Rabbu Kabba. Tapi terkadang apa yang kita dapatkan tidak selalu sama dengan apa yang kita inginkan. Dan untuk semua pertanyaan yang berkecamuk dalam benak perempuan itu, jawabannya adalah tidak.

Tidak, mereka tak berhasil menemukan Ubu Dulla.
Tidak, mereka tak tahu dimana dia berada.
Tidak, mereka tak pasti bagaimana nasibnya.

Selesai sudah. Vonis itu telah dijatuhkan.

Mungkin jerit tertahan meluncur keluar dari bibir Rabbu Kabba. Mungkin ia terjerembab di atas pasir lalu meledak dalam tangis. Semesta terasa berat. Dunia seakan berhenti. Bagaimana mungkin semua berakhir seperti ini? Bagaimana mungkin Ubu Dulla menghilang begitu saja? Sekali lagi ia menjerit, menolak percaya akan takdir yang begitu kejam. Mungkin tubuhnya terguncang, menggigil dan gemetar. Lalu semuanya berubah menjadi gelap.

https://genpi.id/pasola-legend-episode-1

*
bersambung

Oleh : Anisa Umar Bamualim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here