Sumber Foto : (httpsmilenialis.id)

Meski di Bali mayoritas warganya beragama Hindu, namun toleransi anatar umat bergamanya patut dikagumi. Toleransi antar umat beragama tersebut terwujud oleh tradisi tradidinya, salah satunya tradidi ngejot. Tradisi Ngejot adalah kegiatan memberikan makanan kepada tetangga. Kata “Ngejot” adalah istilah dalam Bahasa bali yang berarti “memberi”. Tradisi ini biasa dilakukan oleh warga Bali baik yang beragama Hindu maupun Non-Hindu. Tradisi ini tidak dilakukan setiap hari, biasanya tradisi ini dilakukan ketika memiliki hari yang tidak biasa dalam kehidupan sehari harinya. Kegiatan ini biasa dilakukan ketika kita memiliki makanan yang berbeda dari makanan sehari hari, ketika mendapatkan pekerjaan, atau di hari raya umat beragama. Misalnya ketika hari raya Galungan di Bali, maka umat Hindu yang merayakannya akan memberi makanan kepada tetangganya yang sesama Hindu atau umat bergama lain. Begitu sebaliknya, ketika hari raya umat islam, umat beragama islam akan memberi makanan bukan hanya kepada sesama tetangga beragama islam tetapi juga umat beragam lainnya.

Tradisi ini menunjukan bahwa kerukunan, keakraban dan toleransi anatar umat beragama sangat erat. Kita tidak melihat seseorang berdasarkan agamanya untuk dapat berbagi. Kita dapat berbagi kepada siapapun. Melihat tradisi ini tidak heran, karena umat Hindu sebagai agama mayoritas di Bali telah mengenal “menyamabraya”. “Menyamabraya” adalah konsep memandang orang lain sebagai saudara terlepas dari apapun itu agamanya. Sehingga setiap umat Bergama dapat hidup berdampingan.

Bukan hanya kenal dengan istilah menyamabraya, umat hindu semakin spesifik kenal denga istila “nyama selam” yang artinya “saudara islam”. Hubungan dekat anatar umat agama hindu dan islam di Bali terkenal erat. Hal itu terjadi sejak dahulu, saat masa kerajaan. Agama islam sebagai agama pendatang di Bali sangat disambut dengan baik, bahkan hingga dizinkan untuk tinggal, memiliki tanah untuk bertani, serta mendirikan tempat ibadah. Hal seperti ini membuka peluang terjadinya akulturasi budaya dan bukan peluang untuk terjadinya perpecahan. Akulturasi budaya terlihat dari bangunan masjid dengan gaya ukiran bali dan atap seperti meru bertumpang dua atau tiga.

Budaya toleransi di Bali bukan hanya terlihat anatara umat Bergama tetapi juga dengan suku atau negara lain. Hal tersebut juga membuat Bali sebagai kota wisata, masyarakatnya yang ramah membuat orang lain ingin berkunjung dan menghabiskan waktu di Bali. Walaupun banya dikunjungi oleh berbagai macam daerah dan negara lainnya yang membuat salu adalah Bali tetap menjaga tradisi dan budayanya. Bahkan budaya bali seperti seni tari, seni pertunjukan dan masih banyak lagi menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Bali. Bahkan tidak sedikit warga negara asing yang sengaja datang ke Bali untuk belajar tentang kebudayaan Bali.

Maulani Mulianingsih, Universitas Al Azhar Indonesia Jurusan Ilmu Komunikasi – Broadcasting and New Media, Internship Generasi Pesona Indonesia Nasional Kelompok 11 Ekonomi Kreatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here