Menghormati Kematian dengan Upacara Rambu Solo’ di Mamasa

Sumber Foto: Google

Kita ketahui bahwa Rambu Solo’ merupakan sebuah upacara pemakaman adat di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang sudah sangat terkenal ke berbagai belahan dunia. Acara ini merupakan sebuah upacara kedukaan sebagai tanda penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah meninggal dunia dan wajib dilakukan oleh keluarga yang ditinggalkan. Selain di Tana Toraja, Rambu Solo’ juga ada di daerah lain yaitu di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Perbedaannya terletak pada upacara rituanya, seperti jumlah hewan yang dikurbankan dan prosesi pemotongan. Di Mamasa, Rambu Solo’ merupakan sebuah upacara kedukaan warisan kepercaayaan Aluk Todolo yang saat ini masih dipertahankan. Ketika ada anggota keluarga yang meninggal maka rangkaian acara Rambu Solo’ akan dimulai. Pada kepercayaannya, kematian bukanlah akhir tetapi masih ada lagi kehidupan setelahnya yang harus dilalui oleh manusia. Orang-orang yang masih hidup harus melakukannya, itulah mengapa masyarakat di Mamasa sangat menghormati kematian dan menyayangi para leluhurnya. Jika tidak, mereka percaya bahwa hal tersebut akan membawa malapetaka.

Rambu Solo’ memiliki rangkaian yang cukup rumit dan biaya yang cukup banyak dalam pelaksanaanya. Oleh karena itu, sebelum dilaksanakannya upacara Rambu Solo’ hingga akhirnya jenazah bisa dikuburkan, ada masa tunggu yang harus dilakukan oleh keluarga sembari mempersiapkan segala macam yang dibutuhkan. Biasanya membutuhkan waktu selama enam bulan hingga dua tahun tergantung kesiapan keluarganya. Selama masa tunggu ini, Tomattudangngi atau keluarga inti yang ditinggalkan harus melakukan Mero’, suatu pantangan atau puasa untuk tidak makan nasi dan kunyit hingga upacara Rambu Solo’ selesai sembari menjaga jenazah yang diletakan diatas rumah sebagai simbol rasa duka dan kasih sayang kepada almarhum. Sedangkan keluarga lain dapat melakukan Mero’ ini dengan singkat, yaitu seminggu sebelum puncak upacara Rambu Solo’ dilaksanakan. Jika ada yang melanggar, maka harus menyembelih satu ekor babi sebagai dendanya.

Memasuki upacara Pembabaran atau pemotongan kerbau oleh masyarakat Mamasa menyebutnya dengan Tedong. Jumlah hewan yang dikurbankannya tidak boleh sembarangan meskipun keluarga yang meninggal mampu memotong dengan jumlah lebih banyak, karena di Mamasa cenderung hanya untuk mempertahankan kultur dan budaya saja. Proses Pembabaran di Mamasa berbeda dengan di Toraja, masyarakat mamasa melakukannya dengan menombak kerbau tepat pada jantungnya jika tidak kerbau akan mengamuk. Sebelum dilakukannya pemotongan, kerbau harus di Singgi terlebih dahulu. Singgi merupakan seni bertutur dengan bahasa tinggi Mamasa, hal tersebut dilakukan untuk memuliakan, meninggikan, dan menginformasikan bahwa yang melakukannya merupakan orang khusus. Pada acara ini, kerbau akan disisakan satu ekor untuk disembelih dengan cara islam dan dibagikan kepada tamu muslim.

Pada hari pemakaman, jenazah diturunkan dari atas rumah lalu akan di Paliling Banua atau diarak keliling rumah hingga beberapa kali lalu dibawa ke pemakaman sembari diiringi dengan teriakan khas lalu meloncat-loncat bahkan berlari. Semua yang ikut dalam prosesi ini akan dilempari lumpur, air dan tanah namun tidak marah. Setelah jenazah dikuburkan, besoknya dilakukan Pendioran atau ritual pensucian di sungai yang hanya dilakukan oleh penganut Aluk Todolo, sedangkan mereka yang sudah menganut agama lain tidak melakukan ritual ini. Pada pagi itu juga dilakukan upacara Mamori’ sebagai pengakuan kesalahan, tempatnya juga di sekitar sungai. Dan akhir dari upacara Rambu Solo’ ini dilaksanakan dengan Pa’balikan Daun sebagai rasa syukur atas terlaksananya semua rangkaian Rambu Solo’ yang ditunjukkan kepada Batara Tua (Yang Maha Kuasa) sekaligus menutup ritual Mero’ dan babi yang dikurbankan sebelumnya dimasak kemudian dimakan bersama oleh anggota keluarga yang hadir.

Ditulis Oleh :Miftahudin Mulfi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kelompok 10 Internship Generasi Pesona Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here