Mengenal Keunikan Budaya Suku Baduy

Foto Gambar Desa Suku baduy - @lisdiyanto
(Gambar: Instagram @lisdiyanto)

Kamu pasti sudah sering mendengar mengenai keberadaan Suku Baduy di Provinsi Banten. Sudah tahu bahasa apa yang mereka gunakan, kepercayaan apa yang dianut, dan bagaimana mata pencaharian mereka? Lalu apa beda dengan Baduy Luar? Apa keunikan budaya mereka?

Suku Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka lebih suka disebut sebagai Urang Kanekes dibanding dengan Suku Baduy.

Suku ini membagi wilayah mereka menjadi dua, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Yang membedakan Baduy dalam dan Baduy luar ialah penggunaan pengikat kepala dan warna baju yang digunakan masyarakatnya.

Wilayah Baduy Dalam tampak lebih mepertahankan dan menghormati adat istiadat mereka, seperti tidak menggunakan teknologi, dan mereka masih berpegang teguh dengan peraturan adat yang berlaku disana.

Sedangkan sebaliknya masyarakat di Baduy Luar lebih maju dalam bidang teknologi, sudah banyak terpapar kemodern-an, dan mereka sudah dapat bekerja di kota meskipun hanya sebatas sebagai Asisten Rumah Tangga.

Bahasa

Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Sunda Banten. Namun seiring dengan terbukanya Baduy menjadi pariwisata, banyak masyarakat Baduy yang akhirnya bisa berbicara menggunakan Bahasa Indonesia bahkan Bahasa Inggris walaupun sedikit-sedikit.

Hal ini mereka pelajari secara otodidak dengan mendengarkan percakapan para wisatawa.

Kepercayaan Suku Baduy

Kepercayaan masyarakat Baduy atau yang biasa disebut Urang Kanekes adalah Sunda Wiwitan. Yaitu kepercayaan atas roh nenek moyang, sperti animisme.

Namun kini kepercayaan Sunda Wiwitan sudah mulai terpengaruhi oleh agama Hindu, Budha dan Islam.

Pendidikan

Masyarakat Baduy sama sekali tidak mengenyam pendidikan seperti masyarakat kota. Namun dengan terbukanya Baduy sebagai pariwisata berdampak pula pada pendidikannya.

Di Baduy Luar, sudah ada beberapa anak yang bersekolah karena sudah disediakan SD Negeri disana, namun kebanyakan masih belajar bersama ambu, sebutan untuk ibu.

Meskipun hanya sebatas belajar angka dan huruf. Tapi kini mereka sudah mulai bisa belajar dengan para wisatawan yang datang.

Mata Pencaharian

Foto Gambar Desa perkampungan Suku baduy - @lisdiyanto
(Gambar: Instagram @lisdiyanto)

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy biasa berladang. Namun kini sudah banyak rumah-rumah yang menjajakan makanan dan minuman untuk kebutuhan wisatawan.

Juga menjual pernak-pernik khas Baduy seperti gantungan kunci, kain tenun, gula, madu, gelang, dan masih banyak lagi.

Bahkan mereka pergi ke kota untuk menjual hasil kerja mereka seperti madu, gula Baduy dan masih banyak lagi.

Anak-anak di sana pun sudah diajari berjualan sejak kecil, seperti mengikuti wisatawan dalam perjalanan sambil menjajakan minuman botol.

Perubahan Sosial

Perubahannya sangat terasa di Baduy Luar yang sudah mulai terbawa arus modernisasi, tidak seperti di Baduy Dalam yang masih mempertahankan pikukuh atau aturan-aturan adat mereka.

Perubahannya seperti penggunaan alas kaki, penggunaan kosmetik dan obat-obatan, penggunaan pakaian dan masih banyak lagi.

Anak kecil disana pun sudah terlihat menggunakan mainan modern. Sedangkan untuk mandi, masyarakat Baduy sendiri masih menggunakan aliran sungai yang mengalir. Alat mandi yang digunakan sudah modern.

Di Baduy luar mulai tampak perubahan dan modernisasi, terlihat dari penggunaan alat elektronik, rokok, penjualan makanan dan minuman ringan adalah bukti perubahan dalam masyarakat Baduy.

Di Baduy luar, terutama di desa Gazebo, Beberapa anak Baduy terlihat menggunakan gadget. Di dalam gazebo banyak pemilik rumah yang memiliki senter dan lampu emergency. Mereka menyediakannya untuk tamu atau wistawan yang datang berkunjung.

Selama perjalanan ke Baduy Luar, bahkan perjalanan ke Baduy Dalam menuju desa Cibeo, banyak penjual minuman ringan dan minuman botol di jalan. Mereka melakukan itu sebagai bentuk kegiatan ekonomi. Mereka yang berjualan adalah warga Baduy yang berumur sekitar 13-19 tahun.

Baca juga:
* Enaknya Kue Apem Putih, Kuliner Khas Pandeglang

Sudah menjadi hal biasa bagi orang Baduy Luar mengenakan Kaos atau T-shirt modern. Beberapa dari mereka bahkan tidak lagi memakai ikat kepala. Ada yang menggunakan tas modern, memakai sendal jepit dan meminum minuman gelas. Sama seperti masyarakat kota pada umumnya.

1 COMMENT

  1. Ongkarana sangtabean, pukulun sembah Rahayu. Ahung mangandeg ahung madegdeg. Lebak ulah diruksak, gunung ulah dilebur. Kuntul sauyunan, gagak sagalengan, walik sagiringan. Kudu bisa sareundeuk saigel, sabobok sapehanean. Kudu bisa ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salegok. Kudu bisa silih asuh, silih asah, jeung silih asih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here