Lenggang Cisadane Tarian Akulturasi 4 Kebudayaan

Advertisement
Tari Lenggang Cisadane (Foto: Tangselmedia)

Lenggang Cisadane – Seni tari tradisional di Indonesia amat beragam, tiap daerah memiliki tarian khasnya yang mencirikan daerah tersebut.

Beberapa yang sudah masyhur adalah Tari Saman dari Aceh, Tari Tor Tor dari Sumatera Utara, Tari Piring dari Minangkabau, Tari Jaipong dari Jawa Barat, Tari Serimpi dari Yogyakarta, Tari Kecak dari Bali, dan Tari Yapong dari Betawi.

Namun jika ditilik daerah lain seperti Kota Tangerang, ternyata ada tarian tradisional yang baru diciptakan pada tahun 2011 yang diberi nama Tari Lenggang Cisadane.

Baca juga:
* Tari Remo Jombang Penyambut Tamu

Arti dari Lenggang Cisadane

Lenggang Cisadane adalah seni tari tradisional dari Tangerang.

Dalam tarian LenggangCisadane terdapat akulturasi empat unsur kebudayaan yaitu Betawi, Sunda, Cina, dan Arab. Empat unsur tersebut melambangkan kebudayaan yang berkembang di Tangerang.

Pada tahun 2011 pertama kali tarian LenggangCisadane ini muncul, digagas oleh M. Yunus Sanusi, seorang guru Seni dan Budaya di Tangerang.

Lenggang Cisadane berasal dari dua kata, Lenggang dan Cisadane.

Lenggang berarti manusia yang berjalan atau melangkah atau bergerak dengan cara berlenggang (mengayunkan tangan secara bergantian kanan dan kiri sesuai langkah kaki).

Kata Cisadane diambil dari nama sungai besar yang amat terkenal dan menjadi ikon Tangerang. Cisadane sengaja digunakan agar mudah diterima dan dapat dicintai oleh masyarakat Tangerang.

Jumlah Penari Lenggang Cisadane

Ada yang unik dalam jumlah penari pada tarian ini. Penciptanya, M. Yunus tidak membatasi jumlah penarinya.

Namun agar lebih mencerminkan Kota Tangerang maka dipilihlah angka 13 sebagai jumlah kecamatan di Kota Tangerang.

13 orang tersebut diisi muda mudi yang menari dalam keceriaan namun tetap menjaga kesopanan dan tatakrama selaras dengan moto Kota Tangerang pada waktu itu yaitu Akhlakul Karimah.

Gerakan Tari

Tarian Lenggang ini memiliki 10 gerakan inti yaitu,Sibat, Landangan, Keupat, Selut, Lungsar, Cocor bebek, Enjot sinpay, Keupat lingget, Lontang canting, Kewer II, dan Sontang lageday.

Gerakan tersebut menggambarkan kelincahan, keceriaan, dan kecantikan masyarakat Tangerang.

Gerakan Lenggang Cisadane banyak mengadopsi keempat tadi (Betawi, Sunda, Cina, dan Arab) yang berkembang di Tangerang.

Busana Tari

Busana yang digunakan merupakan hasil akulturasi budaya juga. Namun walaupun dicampur-campur, busana yang dikenakan tetap terlihat indah.

Busana yang dikenakan antara lain, hiasan kepala, tusuk konde ala Tionghoa, hiasan leher (kace), kebaya encim, kain, selendang sebagai properti tari, ikat pinggang (pending) untuk menyangkutkan selendang.

Juga mengenakan apok (khas penari ronggeng Jawa Barat, semacam longtorso yang dililitkan melingkari badan dari dada sampai pinggul, biasanya diberi hiasan berbagai manik-manik dan renda emas).

Dan rambut penari harus dikonde cepol.

Alat Musik pengiring Tari

Tarian Lenggang Cisadane harus diiringi dengan berbagai alat musik, yang dipilih berdasarkan akulturasi budaya juga.

Pada bagian awal alat musik yang digunakan adalah yang digunakan adalah kendang, kempul, gong, kecrek, ningnong, tehyan, kongahyan, dan sukong.

Musik yang dihasilkan pada bagian awal tersebut adalah gabungan antara gamelan serta gembang kromong.

Dilanjutkan musik marawis yang berdiri sendiri. Alat marawis yang digunakan diantaranya adalah rebana atau gendang berukuran kecil (diameter 10 cm, tebal 17 cm).

Kemudian p erkusi ukuran besar (diameter 10 cm, tinggi 50 cm) yang disebut “hadir” dengan kedua kendangnya tertutup, dan “papan tepok”.

Marawi melantunkan sholawat kepada Nabi. Setelah musik Marawis berhenti langsung disambung kembali dengan perpaduan musik gamelan dan gambang kromong hingga tarian berakhir.

Setelah musik dari marawis selesai, langsung disambut dengan perpaduan musik gamelan dan gembang kromong hingga tarian selesai.

Baca juga:
* Asal Usul Kecap Tertua di Indonesia Asli Tangerang

Bagaimana menurutmu Tari Lenggang Cisadane ini? Ada yang sudah membawakan tarian ini?

(Penulis: Hazmi Fathan Kariema, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Peserta Magang GenPinas 2021)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here