Legenda Pulau Senua di Natuna, Yuk Baca Sebelum Jelajahi Keindahannya

Kisah Legenda Pulau Senua - Naen Noan
Sudah tahu Kisah/ Legenda Pulau Senua? YUk baca-baca sebelum menjelajai keindahannya. (Gambar: Naen Noan)

Sebelum mendatanginya, tidak ada salahnya kita mengetahui dulu legenda Pulau Senua. Pulau cantik ini berada di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Jadi kita bisa mengetahui asal muasal/sejarah nama Senua. Juga kisah-kisah menarik yang ada dibaliknya.

Legenda Pulau Senua menceritakan sebuah penjelmaan dari seorang ibu yang sedang hamil. Namanya Mai Lamah. Suaminya bernama Baitusen. Mereka adalah keluarga miskin yang memutuskan untuk merantau mengadu nasib.

Baca juga ya:
* Pesona Pulau Senua di Natuna, dari Pantai Hingga Hewan Langka

Merantau ke Pulau Bunguran

Baitusen dan Mai Lamah memutuskan untuk merantau ke sebuah pulau bernama Bunguran. Dengan alasan, pulau tersebut memiki banyak kekayaan laut. Terutama siput dan karang.

Awal-awal kehidupan keluarga kecil ini di Pulau Bunguran, Baitusen memilih nelayan sebagai penghidupannya. Seperti yang dilakukan warga yang tinggal di pulau tersebut pada umumnya.

Baitusen, setiap hari, pergi ke laut mencari siput-lolak. Sejenis kerang yang kulitnya bisa dijadikan perhiasan. Juga mencari kelekuk-kulai, sejenis siput mutiara. Serta berbagai jenis kerang-lokan.

Sedangkan Mai Lamah, istrinya, membantu dirinya membuka kulit kerang untuk dibuat perhiasan.

Baitusen dan istri merasa nyaman dan betah tinggal di Pulau Bunguran ini. Apalagi para warga pulau menerima mereka dengan baik dan ramah. Sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.

Salah satu yang menjadi sahabat mereka adalah Mak Semah, tetangga rumah. Seorang bidan kampung yang miskin namun hatinya baik.

“Bang! Sejak kita tinggal di kampung ini, Adik tidak pernah merasa sebagai pendatang. Semua warga menganggap kita seperti saudara sendiri,“ Kira-kira begitulah ucapan Mai Lamah kepada Baitusen.

Hari berganti hari, Baitusen semakin rajin mencari nafkah dengan pergi ke laut. Dia tekun mencari kerang dan siput. Berangkat saat hari masih gelap dan kembali pulang saat hari sudah gelap kembali. Daya jelajahnya pun semakin jauh, sampai ke daerah pesisir Pulau Bunguran Timur.

Mendapat Rezeki Ribuan Ekor Teripang

Awal-awal masa keemasan pasangan Baitusen dan MaiLamah pun tiba juga. Momen ini tiba saat Baitusen menemukan sebuah lubuk teripang yang banyak. Dan sejak itu, dia tidak pernah lagi mencari kerang dan siput.

Dengan mencari teripang, Baitusen berharap hidupnya akan menjadi lebih baik dan makmur. Harga teripang kering sangat mahal di Bandar Singapura dan di Pasar Kwan Tong Cina.

Pasangan suami istri Baitusen dan Mai Lamah, akhirnya menjadi nelayan yang sukses. Harta kekayaan mereka menjadi berlimpah. Banyak saudagar dari negeri seberang datang ke Pulau Bunguran untuk berbisnis dengan Keluarga Baitusen.

Berkembang pesat dalam kurun waktu 2 tahun, pesisir timur Bunguran menjadi bandar yang ramai. Bermacam-macam tongkang-wangkang (perahu besar) datang kemari.

Mai Lamah Lupa Daratan

Semakin kaya dan terkenal, istri Baitusen kemudian dipanggil dengan Nyonya May Lam oleh para tauke langganan suaminya itu. Bukannya bertambah rasa bersyukurnya, gelar tersebut justru membuat Mai Lamah lupa daratan.

Ia lupa dengan asal usulnya. Lupa kalau dulunya ia hanyalah seorang istri nelayan miskin. Lupa dulunya suaminya hanya seorang pencari siput yang miskin dan hidupnya serba kekurangan.

Penampilan Mai Lamah sehari-hari pun berubah. Sejak memiliki harta berkucupan, ia selalu bersolek. Namun sayangnya, sikap dan perilakunya juga ikut berubah. Yang tadinya dekat dengan warga sekitar, kini ia sengaja menjauhkan diri dari pergaulan.

Alasannya, tetangganya yang miskin itu berbau anyir, pedak-bilis (sejenis pekasam atau ikan asin, makanan khas orang Natuna), dan berbau kelekuk (siput) busuk.

Semakin parah, Mai Lamah pun menjadi pelokek (sangat kikir) dan kedekut (pelit).

Melihat perubahan kelakuan istrinya, Baitusen mengingatkan. Bukannya mendaat jawaban yang mengenakkan, justru ia mendapat jawaban ketus.

“Untuk apa bergaul dengan mereka. Mereka hanya akan menyusahkan kita saja,” ujar Mai Lamah.

Termasuk saat tetangga dekatnya, Mak Semah ingin meminta bantuan pinjaman beras. Bukan beras yang didapat, Mak Semah justru mendapat cibiran.

“Hai, perempuan miskin! Tak punya kebun sekangkang-kera (bidal untuk menentukan luas tanah/perkebunan). masih saja meminjam. Dengan apa kamu akan membayar hutangmu?“ Cemooh Mai Lamah ke Mak Semah.

Karena sikapnya itu, masyarakat pulau memilih untuk menjauhinya. Sudah enggan untuk bergaul dengannya.

Nyonya May Lam Hamil

Akhirnya Mai Lamah membutuhkan juga pertolongan dari orang lain. Yaitu saat dirinya hamil dan akan melahirkan bayinya. Mak Bidan dari seberang tidak juga datang. Baitusen berkali-kali memohon kepada tetangganya yang terlanjur sakit hati. Namun Mak Semah dan warga lain tidak ada yang bersedia menolong.

“Ah, untuk apa membantu Mai Lamah yang kikir itu! Biar tau rasa dia dan sadar. Budi baik dan hidup bertegur sapa itu jauh lebih berharga daripada harta yang melimpah,” cetus Mak Saiyah, seorang istri nelayan, tetangga Mai Lamah.

Melihat keadaan istrinya, Baitusen tidak tega. Ia bergegas mengajak Mai Lamah mencari bidan di pulau seberang. Ia juga merasa malu, istrinya selalu menghina mereka para tetangga.

“Ayo adik, kita ke kampung seberang saja,” ajak Baitusen.

“Abang. Jangan lupa bawa peti emas perak kita. Jangan ditinggal, nanti dicuri orang. Bawa semua bang,” pinta perempuan kikir itu kepada suaminya.

Asal-usul Pulau Senua

Baitusen bersusahpayah mengayuh perahu di tengah besarnya gelombang laut. Melawan arus laut yang kuat, banyak air laut masuk kedalam perahu. Sehingga lama kelamaan perahu semakin berat dan akhirnya tenggelam bersama peti emas dan perak.

Keberuntungan masih memihak mereka berdua. Walau dengan bersusah payah, Baitusen masih sanggup menyelamatkan diri dan istrinya ke pantai Bunguran Timur. Mai Lamah berpegang erat pada tali pinggang Baitusen yang terbuat dari kulit kayu terap.

Namun keberuntungan tidak berlangsung lama. Bumi Bunguran sudah tidak sudi lagi menerima Mai Lamah. Disertai hujan deras dan angin kencang serta petir yang menyambar-nyambar. Tubuh Mai Lamah menjelma menjadi batu besar dalam keadaan berbadan dua.

Batu besar itu, lama kelamaan, berubah wujud menjadi sebuah pulau. Warga setempat menyebut pulau tesebut dengan “Sanua”. Arti Sanua adalah satu tubuh berbadan dua.

Emas dan perak yang masih melilit di tubuh Mai Lamah, kemudian menjelma menjadi burung layang-layang putih. Kita mengenalnya dengan burung walet.

Sampai saat ini Pulau Senua di Kabupaten Natuna terkenal sebagai pulau sarang burung layang-layang putih.

Pesan Moral

Kisah Legenda Pulau Senua ini memiliki pesan moral yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Bisa menjadi pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagaimana seseorang yang tadinya miskin kemudian menjadi kaya raya. Sifatnya kemudian berubah menjadi sombong dan kikir, tidak mau menolong orang lain lagi. Dengan kata lain, tidak bersyukur akan nikmat dari Tuhan.

Baca juga:
* Liburan ke 5 Tempat Wisata di Natuna, Indah dan Mengesankan!

Harta kekayaan bukanlah satu-satunya yang dihargai/dipandang oleh orang di dunia ini. Ada budi bahasa dan perilaku baik/budi pekerti yang lebih berharga.

Sekarang kamu sudah mengetahui kisah/legenda Pulau Senua. Jadi kapan mau berlibur ke Pulau Senua di Natuna, Kepulauan Riau?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here