Jabu Sihol Kenalkan Budaya Batak ke Dunia
Jabu Sihol salah satu destinasi yang bisa kenalkan Budaya Batak ke Dunia. (Foto: ist)

SIANTAR – Berbagai potensi wisata Indonesia makin terangkat ke permukaan. Salah satunya Jabu Sihol di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara (Sumut). Sebuah tempat yang memberikan nuansa berbeda bagi wisatawan yang menyambangi Danau Toba.

“Jabu Sihol adalah tempat yang berasal dari hati. Sebuah jawaban atas kegundahan kami atas tergerusnya budaya Batak saat ini. Padahal kekayaan budaya Batak menjadi modal utama untuk menarik minat wisatawan khususnya ke Danau Toba. Karena wisatawan saat ini bukan saja mencari keindahan alam, tetapi juga mencari sebuah pengalaman dari perjalanan yang dilakukannya,” kata Founder Jabu Sihol Daniel Tua Ompusunggu, Jumat (18/10).

Baca juga:
* Tradisi Lompat Batu Nias Siap Mendunia

Sebagai sebuah destinasi, Jabu Sihol memang layak diacungi jempol. Di tempat ini wisatawan dibawa merasakan kehidupan layaknya masyarakat Batak. Setidaknya ada enam pengalaman yang bisa di dapatkan di tempat ini. Dari mulai bercocok tanam, menenun Ulos, mempelajari bahasa Batak, mempelajari tarian Batak, memasak, hingga mencoba berbagai kuliner Batak yang dimasak sendiri. Dan semua itu melibatkan seluruh masyarakat yang ada di sekitar destinasi.

Tak pelak saat ini tempat ini pun menjadi viral. Wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan domestik kini banyak yang menyambanginya. Apalagi ada penginapan secara gratis bagi setiap tamu yang datang. Bukan itu saja, seluruh pengalaman yang didapatkannya pun diberikan secara cuma-cuma alias gratis juga.

“Kami tidak pernah memungut biaya apapun kepada wisatawan yang datang. Semua kita sediakan gratis. Syaratnya mereka mau belajar budaya Batak. Tetapi jika mereka mau berdonasi silahkan. Ada kotak donasi yang kami sediakan. Berapa pun besarnya kami tidak memaksa,” papar Daniel.

Lantas bagai mana Jabu Sihol bisa bertahan dan memenuhi semua biaya operasionalnya?

Untuk itu Daniel punya jawab yang logis.

“Setiap pergerakan akan memicu pergerakan lainnya. Kami memacu tiap tamu yang datang untuk berperan serta bersama membangun Jabu Sihol. Seiring perjalanan para tamu lah yang banyak menyumbangkan materi untuk biaya operasional,” beber alumni Institut Teknologi Bandung ini.

Jabu Sihol Kenalkan Budaya Batak ke Dunia
(Foto: ist)

Bagi Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Nia Niscaya, keberadaan Jabu Sihol menjadi rumah inspirasi bagi siapa pun yang ingin mempelajari budaya Batak. Selain itu keberadaanya jelas menjadi daya tarik tersendiri dari Danau Toba.

Karena itu Kemenpar pun terus mendorong magnet baru pelestraian budaya Batak ini untuk terus berkembang. Beberapa kali Daniel pun diundang Kemenpar untuk mempromosikan Jabu Sihol di berbagai negara. Bahkan fantrip media dari Jepang pun baru-baru ini diarahkan untuk berkunjung kemari. Tepatnya pada hari Jumat (18/10).

“Kami sangat concern terhadap pergerakan anak-anak muda yang kreatif seperti di Jabu Sihol. Karena ini sejalan dengan program pemerintah yang menetapkan Danau Toba sebagai destinasi super prioritas. Makanya berbagai market yang kami tangani kami coba masukkan JabuSihol untuk bisa berpromosi di sana,” papar Nia yang didampingi Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran II Regional II Kemenpar Ardi Hermawan.

Acungan jempol pun diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya terhadap Jabu Sihol. Menpar berharap destinasi ini mampu menjadi wadah awal bagi tumbuh kembangnya budaya di Siantar maupun Danau Toba.

Keberadaannya diharapkan dapat merangkul masyarakat untuk mengangkat budaya Batak. Dan selanjutnya memacu masyarakat lokal dalam mengembangkan budaya Batak sehingga diminati wisatawan. Dengan itu secara langsung masyarakat dapat terlibat dalam kepariwisataan.

Baca juga:
* Bukit Tarabunga Balige, Spot Foto Eksotis di Tobasa

“Ini sangat luar biasa. Saya acungi jempol atas kehadiran Jabu Sihol. Sebuah wadah yang menjadi destinasi unggulan yang di gerakkan langsung Daniel Tua Ompusunggu. Seorang anak muda yang berani kembali membangun kampung halamannya melalui budaya dan pariwisata. Dan ingat! Budaya itu semakin dilestarikan semakin mensejahterakan. Karena laku dijual ke wisatawan,” tutup Menpar Arief.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here