Sumber foto : (https://mediacenter.slemankab.go.id)

Selama pandemi seperti ini, banyak tren baru yang bermunculan. Salah satunya adalah minat masyarakat untuk mengikuti gaya hidup ramah lingkungan. Melalui tren gaya hidup ramah lingkungan, masyarakat diajak untuk menggunakan produk yang minim limbah, dan hanya memanfaatkan alam. Aneka produk yang memanfaatkan alam bisa kita temui di lingkungan sekitar. Salah satunya yang sedang hits adalah cara pewarnaan dengan teknik eco printing. Metode ini berbeda dengan teknik pewarnaan pada industri tekstil yang kerap memakai pewarna sintetis.

Secara istilah teknik pewarnaan eco printing berasal dari kata eco yang berarti alam, dan printing yang artinya mencetak. Uniknya, metode pewarnaan ini hanya menggunakan bahan – bahan yang berasal dari alam seperti, aneka dedaunan, bunga, dan ranting. Meski sudah nge-tren dari beberapa tahun silam, namun hingga kini eco printing masih diminati para pelaku industri tekstil sebagai inovasi produk kerajinan. Hal ini yang dilakukan oleh Alfira Oktaviani yang mendirikan butik bernama Semilir Ecoprint Artisan dengan inovasi batik eco printing.

Alvira menuturkan bahwa usaha yang digelutinya ini dimulai sejak 2017 silam. Berawal dari kegemarannya terhadap aneka tumbuhan, dan motif cantik yang ditimbulkan dari teknik eco printing. Hingga pada akhirnya ia memberanikan diri untuk berinovasi dengan membuat batik eco printing yang hanya memanfaatkan bahan alami sebagai komposisi utama. Selain penggunaan daun sebagai bahan utama dalam pemberian warna, dan motif, ia bercerita bahwa pemilihan serat kain juga begitu penting. Alvira kerap memilih serat alami yang berasal dari tumbuhan, dan kulit hewan.

“Serat alami dipilih karena mampu menyerap warna dengan baik. Serat alami kelompok selulosa misalnya katun, linen, goni, kulit kayu, sedangkan, kelompok protein misalnya sutera, wol maupun kulit binatang,” tutur Alvira dilansir dari Mediacenter.slemankab.go.id.

Batik eco printing yang ia produksi, menyuguhkan motif cantik yang didapatkan dari beberapa jenis daun seperti, daun jati, daun lanang, daun jarak kepyar, dan daun jambu biji. Warna alami yang berasal dari getah daun tersebut mampu menambah pesona batik eco printing. Kamu juga dimanjakan dengan aneka desain batik yang tidak hanya menawarkan desain motif yang polos, namun bisa dipadupadankan dengan batik tulis, maupun batik cap. Di sini kamu bisa melihat produk batik eco printing lainnya seperti, kemeja, long dress, syal, dompet, tas, dan lain sebagainya.

Bagi Sobat Genpi yang penasaran bagaimana cara pembuatan batik eco printing. Jadi, langkah pertama yang disiapkan adalah merendam kain menggunakan air tawas selama tiga hari. Sisa rendaman air tawas jangan dibuang begitu saja, kamu bisa memanfaatkannya untuk membersihkan kamar mandi. Kemudian, kain yang sudah direndamkan, diangkat, dan direntangkan di atas alas berupa tikar, maupun koran.

Selanjutnya adalah proses menata aneka daun yang sudah terkumpul di atas kain, dan ditata sedemikian rupa. Agar warnanya dapat keluar, pukullah daun-daun tersebut dengan menggunakan palu, sembari mengendalikannya agar tidak meleset. Setelah itu, Sobat Genpi bisa langsung menggulung kain dengan kayu supaya tidak bergeser. Kencangkan gulungan kain tersebut dengan tali, kemudian kukuslah dengan api sedang selama 2 jam.

Setelah melewati proses mengukus, kain yang sudah dikukus kemudian diangkat, dan dibiarkan selama 3 hari. Kemudian kain dibuka, dan bersihkan sisa daun yang menempel pada kain tersebut. Proses berikutnya adalah perendaman kain dengan larutan air tawas yang bertujuan untuk mengikat motif, dan menjaga agar warna yang dihasilkan dari daun tidak cepat luntur.

Setelah itu, kain dibilas menggunakan lerak, dan kamu bisa menjemurnya di bawah terik matahari. Menurut Alvira, selalu ada kejutan setiap ia membuat batik eco printing, terkadang hasil motif dan warna yang dihasilkan justru berbeda, walaupun menggunakan jenis daun yang sama.

“Selalu terjadi kejutan pada tahap ini karena warna, motif tidak selalu sama dengan apa yang dibayangkan sebelumnya,” kata Alvira dilansir dari Mediacenter.slemankab.go.id.

Melalui inovasi batik eco printing yang dikembangkannya, Alvira mengaku sering mendapatkan tawaran untuk mengekspor produknya hingga luar daerah. Belakangan ini, ia sempat mengikuti pameran produk kerajinan bergengsi Inacraft yang berlangsung di Jakarta, dan mendapatkan antusiasme yang baik oleh masyarakat domestik, maupun mancanegara.

Ia mengaku sangat senang bisa berinovasi melalui batik eco printing yang secara tidak langsung dapat bekrontribusi terhadap kelestarian lingkungan.

Sobat Genpi tertarik mengunjungi kerajinan batik eco printing yang dibuat oleh Alvira? Langsung saja datang ke Semilir Ecoprint Artisan yang terletak di Perumahan Griya Ari Pratama Blok A17, Jl. Balong Sukoharjo, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain puas berbelanja, dan memanjakan mata melalui aneka produk eco printing yang ditawarkan, di sini kamu juga bisa belajar langsung tentang proses pembuatan batik eco printing. Asyik, bukan?

Ditulis oleh Lukman Hakim, Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Ahmad Dahlan, Program Internship Genpinas tahun 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here