Gowes di Kota Baru Jogja, Sehat Bonus Belajar Sejarah

Pandemi COVID-19 mengharuskan masyarakat menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, salah satu caranya adalah dengan berolahraga. Banyak jenis olahraga yang kembali booming di kalangan masyarakat, seperti bersepeda. Selain berolahraga, bersepeda juga dijadikan kesempatan untuk menikmati moment berwisata pada masa pandemi COVID-19 ini.

Para goweser, panggilan yang seringkali ditujukan kepada para pesepeda, mulai bertebaran di jalan-jalan di Indonesia. Yogyakarta misalnya, telah banyak goweser yang berlalu-lalang di rute primadona seperti Kawasan Malioboro hingga Jalan Selokan Mataram.

Namun, pernahkah terpikir untuk berolahraga sambil berwisata ke masa lalu?Yuk intip rute bersepeda di Kotabaru, kawasan elit peninggalan Belanda !

Kotabaru, Gudang Masa Lalu

Dilansir dari blogspot jejakkolonial, Kawasan Kotabaru merupakan kawasan perumahan elit bagi orang Belanda yang dibangun setelah Perang Dunia I, atau pada akhir pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII yaitu tahun 1877 – 1921. Pada kawasan ini, terdapat banyak cagar budaya peninggalan berupa karya arsitektur zaman kolonial Belanda maupun saksi-saksi perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah.

Pada awal pembentukannya, kawasan Kotabaru dirancang dalam konsep Garden City karena pepohonan rimbun di depan bangunan dan ruang-ruang di tepi jalan. Hal tersebut menjadi pembeda Kawasan Kotabaru dari kawasan lain di Yogyakarta. Didukung dengan ciri khasnya, Kotabaru cocok dimanfaatkan untuk bersepeda.

Berikut rute bersepeda dengan sejarah di Kotabaru :

  1. Museum Sandi

Perjalanan bermula dari Museum Sandi yang terletak di Jl. Faridan M Noto No 21, Kotabaru. Museum ini mempunyai koleksi benda bersejarah dalam dunia persandian Indonesia. Museum Sandi bercerita mengenai Indonesia yang pada masa awal kemerdekaan masih menggunakan sandi kolonial, seluk-beluk persandian di Indonesia, dan di dunia. Di Museum ini, para goweser dapat belajar mengenai sejarah komunikasi di Indonesia sembari bersiap untuk bersepeda ke titik selanjutnya.

  1. Masjid Syuhada

Perjalanan berlanjut menyusuri Jln. I Dewa Nyoman Oka, dari ujung jalan terlihat bangunan Masjid Syuhada. Masjid Syuhada merupakan bangunan cagar budaya yang dibangun sebagai hadiah dari pemerintah Indonesia kepada rakyat Yogyakarta karena telah berjuang melawan penjajah Belanda. Di samping itu, Masjid Syuhada merupakan masjid pertama di kawasan kotabaru yang dibangun untuk muslim pribumi. Di Masjid ini, para goweser dapat singgah ataupun sekedar lewat dan mengagumi arsitektur jawa-belanda yang disajikan bangunan Masjid Syuhada.

  1. HKBP Yogyakarta

Masih berada di jalan yang sama, berdekatan dengan Masjid Syuhada, goweser akan melihat arsitektur kuno Belanda yang melekat pada HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Yogyakarta. Bangunan ini merupakan gereja yang dahulu merupakan gereja Kristen Gereformeerd yang dibangun Belanda untuk para zending (misionaris) dan para umat kristiani Belanda.

  1. PT Asuransi Jiwasraya

Berlanjut ke arah timur,
tepatnya di ujung Jl I Dewa Nyoman Oka, terdapat bangunan PT Asuransi Jiwasraya yang merupakan perusahaan asuransi jiwa pertama kali di Indonesia (dahulu Hindia Belanda) yang didirikan tahun 1859. Pada masa penjajahan Belanda, bangunan ini digunakan sebagai rumah salah satu pegawai Asuransi Nill Maatschappij, sedangkan pada masa penjajahan Jepang dipakai sebagai tempat tinggal perwira tinggi angkatan bersenjata Jepang. Dari bangunan ini, para goweser dapat menyaksikan bangunan yang menjadi saksi bisu dua masa penjajahan di Indonesia.

  1. SMA N 3 Yogyakarta

Sekolah ini telah berdiri sejak tahun 1918 pada masa penjajahan Belanda sebagai AMS-B (Algemenee Middelbare School) untuk kalangan elite pribumi bersekolah hingga berganti nama menjadi SMT A dan B (Sekolah Menengah Tinggi) pada masa penjajahan Jepang. Sebagai salah satu cagar budaya, para goweser dapat singgah sebentar untuk sekedar melihat ataupun masuk ke dalam sekolah dengan nama tenar PADMANABA ini.

  1. Stadion Kridosono

Berlanjut ke salah satu stadion terkenal di Yogyakarta, yakni Stadion Kridosono. Kridosono awalnya dibangun sebagai taman untuk mempercantik dan menjadi tanda pusat tata letak kota. Namun pada akhir masa penjajahan Belanda, stadion ini digunakan sebagai tempat olahraga khusus penduduk Belanda. Setelah zaman penjajahan Jepang, barulah penduduk pribumi dapat menikmati fasilitas olahraga tersebut.

  1. Monumen Serbuan Kotabaru

Dari Kridosono, goweser akan menuju pusat sejarah di Kotabaru yaitu Monumen Serbuan Kotabaru. Monumen ini merupakan saksi dari pertempuran Kotabaru di zaman penjajahan Jepang. Berada dekat dengan Monumen Serbuan Kotabaru, berdiri Asrama Kompi Kotabaru yang merupakan bekas gudang senjata (Kutobutai) yang pada masa penjajahan Jepang menjadi sasaran utama dari pertempuran Kotabaru. Disini, para goweser dapat membaca 21 nama pejuang yang gugur dalam pertempuran tersebut.

  1. Rumah Sakit Bethesda

Kemudian sebagai persinggahan terakhir, terdapat Rumah Sakit Bethesda. Rumah sakit ini memiliki andil besar praktik zending (misionaris) sebagai tempat pemberi pelayanan guna mengembangkan misi gereja, sehingga pada tahun 1897 perkembangan agama Kristen di Yogyakarta semakin pesat. Praktik zending ini gencar dilakukan pada zaman penjajahan Belanda sebagai penerapan motto Glory, Gold, dan Gospel.

Itulah rute bersepeda dengan delapan tempat bersejarah yang dapat dilalui goweser di Kotabaru. Rute ini dibuat cukup singkat dan pendek sehingga cocok untuk para goweser pemula yang ingin memulai kebiasaan bersepeda sambil belajar sejarah dan menikmati suasana masa lampau di kota Yogyakarta. Meskipun hanya 2,1 kilometer, harapannya rute ini bisa menjadi salah satu referensi wisata bersepeda di Yogyakarta.

source :
https://jejakkolonial.blogspot.com/2016/03/yang-tidak-baru-di-kotabaru.html?m=1

Artikel ini ditulis oleh Galuh Haris Septyana, Universitas Gadjah Mada jurusan Pariwisata, pada program magang Genpinas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here