Yuk! Ke Festival Garuda di Candi Prambanan 8-11 Februari 2020

Sudah ada rencana untuk berlibur ke Yogyakarta dan berkunjung ke Candi Prambanan? Kalau akan traveling dalam waktu dekat ini, cocokkan waktunya di tanggal 8-11 Februari 2020. Karena akan ada Festival Garuda di sana. Penasaran apa sih Festival Garuda itu?

Festival Garuda 8-11 Februari 2020 menjadi ruang edukasi sejarah lambang negara Republik Indonesia. Kita bisa ‘menikmati Garuda’ dalam pameran, pertunjukan, workshop dan diskusi.

Heru Prasetya penggiat festival di Indonesia mengatakan, masih sedikit masyarakat Indonesia yang mengetahiu bahwa ide visual lambang Garuda Pancasila berakar pada mitologi nusantara. Juga sedikit yang tahu bahwa Dirk Ruhl Jr., yang menyempurnakan visual Garuda Pancasila.

“Kami Mengundang para penggiat, pecinta, penggila Garuda utk datang. Bergabung dan menyaksikan pameran, workshop, pemutaran film, pertunjukan tari, fashion wayang hip hop, dan arak-arakan Garuda.” Ujar pria yang dikenal dengan Heru Mataya.

“Datang ke FESTIVAL GARUDA, tanggal 8-11 Februari 2020. Di Candi Prambanan, candi tercantik di dunia. Mari merayakan Garuda!” Ajaknya.

Rundown Acara

Candi Prambanan dan Garuda

Beragam media telah mempublikasikan bahwa Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia. Sekaligus menjadi salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Juga termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO.

Candi Prambanan yang dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan. Sewajarnya bila kemudian terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, pada masa kerajaan Medang Mataram.

Sebagai persembahan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu. Yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.

Cerita dibalik pembuatan Candi Prambanan akhirnya menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.

Namun, ada berapa orang Indonesia yang mengetahui bahwa Candi Prambanan juga memiliki cerita sejarah terkait proses lahirnya lambang Negara Garuda Pancasila?

Panitia Indonesia Raya bentukan tahun 1945, diketuai oleh Ki Hajar Dewantara dan Muhammad Yamin sebagai sekretaris, pada peradaban kuno dan mitologi Nusantara. Hasil penelusuran panitia ini menemukan figur Garuda terekam dalam relief dan arca di beberapa candi.

Misalnya: Candi Prambanan; Sojiwan; Mendut; Penataran; Belahan; Sukuh, dan Cetho. Di Jawa dan Bali, figur Garuda digambarkan melambangkan kabajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan dan disiplin.

Sebagai kendaraan Dewa Wisnu, ia diyakini pula memiliki sifat-sifat tuannya. Yakni sebagai pemelihara dan penjaga alam semesta.

Dalam periode sejarah klasik Indonesia, banyak kerajaan-kerajaan pun menggunakan sosok Garuda sebagai lambang kerajaannya.

Sebagai kelanjutan kerja Panitia Indonesia Raya, secara resmi 10 Januari Hamid II, selaku Menteri Negara Zonder Portofolio Kabinet RIS meneruskan upaya panitia sebelum.

Panitia ini ditugasi untuk menyeleksi usulan-usulan rancangan lambang negara yang akan dipilih serta diajukan kepada pemerintah RIS. Panitia ini diketuai oleh Prof. Mr. Mohammad Yamin, dan dibantu oleh beberapa anggota. Yaitu; Ki Hajar Dewantara, M.A. Pallupessy, Muhammad Natsir, dan Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka.

Proses perancangan dilalui tahap demi tahap. Hingga pada 11 Februari 1950 menghasilkan kesepakatan bersama sebuah rancangan lambang negara. Berbentuk Elang (gundul) mencengkeram pita putih bertulis sesanti Bhinneka Tunggal Ika namun dengan posisi cakar terbalik.

Presiden Soekarno memperkenalkan untuk pertama kalinya pada tanggal 15 Februari 1950 lambang negara tersebut di Hotel des Indes Jakarta. Kemudian 20 Februari 1950 diresmikan pemasangannya di ruang sidang parlemen RIS oleh presiden Soekarno.

Namun, desain tersebut masih menuai pro kontra di kalangan anggota Parlemen. Karena kedekatan bentuk kepalanya dengan elang lambang Amerika. Akhirnya, gambar lambang negara diperbaiki oleh Dirk Ruhl Jr. Dirk Ruhl mengubah arah cakar dan memberi jambul yang mengacu pada burung elang rajawali endemik Indonesia.

Presiden Soekarno menyetujui dan memberikan desposisi pada Sultan Hamid II tertanggal 20 Maret 1950. Lalu memerintahkan Dullah (pelukis istana) untuk menggambar ulang gambar tersebut.

Festival Garuda sebagai Media Sosialisasi

“Sayangnya pengetahuan kesejarahan di atas belum tersebar luas di masyarakat baik secara umum maupun akademik. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal negara tanpa memahami lambang negaranya.” Kata Heru Mataya.

Untuk itulah, lanjut Heru, diperlukan media sosialisasi yang efesian untuk mengejar keterlambatan informasi sejarah penting tersebut.

“Maka sebuah festival yang memadai perlu diadakan secara berkesinambungan adalah sebuah jawaban konkrit, yaitu Festival Garuda. Festival ini merupakan ruang edukatif histori lambang Garuda Pancasila bagi generasi kini.” Pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here