Fakta Menarik Nyepi Saat Pandemi di Bali

Advertisement
nyepi, virus corona, covid-19, bali
(Foto: BBC Indonesia)

Hari raya identik dengan perayaan yang dilakukan secara ramai, seperti Idul Fitri, Natal, Imlek, dan sebagainya. Namun berbeda dari hari raya lainnya, Hari Raya Nyepi ‘dirayakan’ dengan kesunyian. Hal ini sesuai pemaknaan Nyepi bagi Umat Hindu, yaitu permohonan kepada Tuhan untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta) sehingga pada hari itu harus sunyi, sembari melakukan peribadatan.

Meskipun dirayakan secara hening, Hari Raya Nyepi memiliki serangkaian ritual yang dilaksanakan baik sebelum maupun sesudah Nyepi. Beberapa ritual dilaksanakan secara beramai-ramai oleh warga di daerah setempat. Di antaranya adalah pawai ogoh-ogoh yang diikuti secara meriah.

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung di Indonesia memengaruhi perayaan Nyepi pada tahun ini, ada beberapa hal yang membuatnya terasa berbeda. Bagaimana perayaan Nyepi di Bali saat pandemi? Simak fakta-fakta berikut.

Menuju Hari Raya Nyepi 2021, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali telah mengeluarkan Surat Edaran terkait Nyepi tahun 2021. Surat edaran ini berisi serangkaian aturan penyesuaian perayaan Nyepi di tengah pandemi.

Sebelum pelaksanaan Nyepi, beberapa ritual yang dilakukan adalah Melasti, Tawur, dan Pengrupukan. Melasti merupakan prosesi arak-arakan ke laut untuk melakukan persembahyangan menyucikan berbagai hal kotor. Pada tahun ini, prosesi Melasti tetap diadakan meskipun tidak diikuti oleh seluruh warga. Kebijakan PHDI Bali, Melasti hanya diikuti oleh mereka yang bertugas saja. Tawur dan Pengrupukan memang dilaksanakan di halaman rumah masing-masing, namun warga tetap dihimbau untuk melakukannya secara terbatas dan tidak menimbulkan kerumunan meski di rumah. Pelaksanaan ini pun disesuaikan dengan kondisi desa setempat dan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Ritual biasanya diakhiri dengan pawai ogoh-ogoh, seperti yang sudah disebut di atas. Pada tahun-tahun sebelumnya, pawai dimeriahkan oleh seluruh warga dengan ogoh-ogoh berwujud Buta Kala, yang menggambarkan sifat buruk manusia seperti tamak atau jahat. Di akhir ritual, ogoh-ogoh tersebut dilenyapkan dengan cara dibakar sebagai bentuk membersihkan sifat buruk. Namun menyesuaikan edaran bersama PHDI dan MDA Bali poin 6 tahun 2021, Hari Raya Nyepi tahun ini tidak ada kegiatan pawai ogoh-ogoh karena bisa menimbulkan kerumunan dan dikhawatirkan akan memunculkan klaster baru Covid-19.

Selain dilarang ikut Melasti, masyarakat juga dilarang untuk ramai-ramai ke Pura. Sembahyang dihimbau untuk dilakukan di rumah masing-masing. Ketua PHDI, I Gusti Ngurah Sudiana, mengatakan bahwa Tuhan maha tahu, di situasi seperti ini beliau pasti tidak marah karena umat tidak datang ke pura.

Menariknya, Nyepi tahun ini internet yang berasal dari jaringan WIFI tetap diperbolehkan menyala. Internet tetap jalan karena pada kondisi ini hal itu merupakan satu-satunya cara agar komunikasi tidak putus jika terjadi sesuatu. Biasanya, seluruh layanan internet saat Nyepi akan dinonaktifkan namun karena adanya penyesuaian kondisi, maka hanya data seluler dan Internet Protocol Television (IPTV) saja yang ditiadakan.

Meskipun perayaan Hari Raya Nyepi di Bali tidak semeriah pada tahun-tahun sebelumnya, namun tidak mengurangi makna dari Nyepi itu sendiri. Makna yang sangat mendalam yaitu sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari toleransi, hari kebersamaan, hari kedamaian, dan hari kerukunan nasional, dengan ujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung (alam semesta/macrocosmos) tidak akan hilang hanya karena kondisi yang tak lagi sama.

Oleh : Seniyya Zahra, Universitas Indonesia. Kelompok 10 (Event & News)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here