Cemara 6 Galeri, Oasis di Tengah Ibukota

Berbicara tentang seni rasanya tidak ada ujungnya. Dengan seni, manusia dapat mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Salah satunya lewat seni rupa seperti lukisan. Karya seni seperti ini sangat digemari khalayak muda karena tidak hanya indah dipandang mata, namun juga indah dipajang di feeds sosial media. Tak heran banyak galeri seni yang ramai dikunjungi. Mulai dari penggiat seni hingga muda-mudi pemburu foto cantik nan estetik ala galeri seni untuk dipamerkan di sosial media mereka masing-masing.

Di Ibukota misalnya, terdapat lebih dari 50 galeri seni yang berdiri di lahan sempit DKI Jakarta. Maklum, banyak warga Ibukota yang butuh hiburan dan pelarian dari rutinitas hidup di tengah kota.

Sejalan dengan perkataan seniman dunia Pablo Picasso, tujuan seni adalah mencuci debu kehidupan sehari-hari dari jiwa kita, Cemara 6 Galeri Museum tampil sebagai jawabannya. Instagenik, bersejarah, dan juga edukatif, yuk simak informasinya !

Cemara 6 Galeri Museum dan Toeti Heraty Roosseno

Umumnya, pemilik dari sebuah galeri seni adalah seorang seniman. Berbeda dari umum, Cemara 6 Galeri ini berpemilik seorang guru besar filsafat, feminis, dan istri dari biologis Indonesia. Ya, beliau adalah Toeti Heraty Noerhadi Roosseno.

Berawal dari kecintaannya pada kehidupan dan keyakinan bahwa seni adalah sebuah jalan untuk menjadikan Indonesia ekspresif dan kreatif, dengan mantap diresmikanlah ruang privatnya untuk masyarakat luas sebagai galeri-museum.

Disadur dari bisnis.com, Cemara 6 Galeri didirikan tepat pada ulang tahun ke-60 Bu Toeti tanggal 27 November 1993. Koleksi pertama yang ada di galeri ini adalah 53 lukisan dari pelukis Salim yang tidak dapat menjual karyanya di Taman Ismail Marzuki karena masalah bea cukai. Koleksi tersebut juga memprakarsai niat dari Ibu Toeti untuk mendirikan Cemara 6 Galeri Museum ini. Selain hal tersebut, berdirinya galeri-museum ini wujud keinginan Ibu Toeti agar para pengunjungnya tetap mengenang sejarah Ibukota. Mengingat tempat yang dijadikan galeri-museum ini juga merupakan tempat terjadinya peristiwa sejarah seperti rapat reformasi. Ingat JASMERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah !

Oasis di Tengah Kota

Terletak di bilangan Jakarta Pusat, tepatnya pada Jl. HOS. Cokroaminoto No.9-11, Gondangdia, Menteng, membuat galeri-museum ini berada di pusat kota yang ramai dan penuh. Dengan berdirinya Cemara 6 Galeri Museum ini, sang ibu berharap hadirnya dapat menjadi pembasuh jenuh dari kesibukan rutinitas Ibukota bak oasis di tengah gurun.

Terdiri dari dua lantai di dua gedung yang saling menyambung, pengunjung akan disuguhkan lebih dari 300 lukisan dari para maestro seni asal Indonesia. Mulai dari Mochtar Apin, Basoeki Abdullah, Affandi Koesoema, hingga anaknya Kartika Affandi. Dari karya klasik hingga kotemporer.

Uniknya, semua lukisan yang berada di galeri-museum ini tidak didapatkan dari bursa lelang ataupun pameran seni, namun melalui kedekatan sang seniman dan Ibu Toeti. Lihat saja lukisan bambu kering yang dihadiahkan oleh Mochtar Apin, sahabatnya sekaligus rekan kerja Prof Noerhadi suami dari Ibu Toeti. Ada juga lukisan hitam putih karya Kartika Affandi , diberikan kepada Cemara 6 Galeri Museum sebagai barter ongkos pulang sang pelukis ke Yogyakarta. Hubungan-hubungan batiniah dan personal ini terasa sangat kental di galeri-museum ini. Apalagi Cemara 6 Galeri Museum ini menempati rumah yang masih berfungsi sebagai tempat tinggal pemiliknya. Pengunjung seakan terbawa masuk ke dalam kehidupan privat Ibu Toeti Heraty. Suasana homie, sejuk, dan sendu menambah kenyamanan saat mengunjungi Cemara 6 Galeri Museum ini. Benar-benar oasis di tengah kota ya !

Kafe, Perpustakaan, dan Home Stay

Selain galeri seni, Cemara 6 Galeri Museum yang merupakan intregated museum menyajikan sarana pendukung kenyamanan pengunjungnya, mulai dari kafe, perpustakaan hingga home stay.

Kafe bernama Cemara 6 Café di galeri museum ini menyajikan menu-menu eropa dengan kisaran harga Rp 25.000-Rp 75.000 dilengkapi dengan suasana eropanya yang syahdu.

Beralih ke perpustakaan, perpustakaan ini menampung lebih dari 500 buku yang bertema besar arsitektur, teknik bangun hingga feminisme dan filsafat. Semua buku tersebut merupakan peninggalan dari orang tua Toeti Heraty, arsitektur dan teknik bangun dari Sang Bapak, feminisme dan filsafat dari Sang Ibu. Ingat, buku-buku disini hanya untuk dibaca di tempat ya !

Selain perpustakaan, pengunjung juga dimanjakan oleh fasilitas home stay yang ada didalam galeri-museum dengan harga berkisar Rp 350.000 per malam. Masih betah di Cemara 6 Galeri Museum ? Yuk manfaatkan fasilitas ini !

Jam Operasional dan Tiket Masuk

Cemara 6 Galeri Museum buka setiap hari, mulai pukul 10.00-16.00 WIB. Begitu pun perpustakaan dan home stay-nya. Untuk para penyuka kesunyian disarankan untuk datang saat weekdays, tapi untuk kamu yang menyukai karya seni kotemporer dan hinggar-binggar komunitas yang berkumpul, datanglah saat Cemara 6 Galeri Museum mengadakan pameran dan pertemuan. Dengan tiket masuk seharga Rp 10.000, kamu sudah dapat menikmati keindahan karya seni di galeri-museum, aneka buku di perpustakaannya serta kudapan ‘selamat datang’ dari Ibu Toeti Heraty.

Jadi, Apakah kamu warga Ibukota yang lelah akan rutinitas? Ingin mempercantik feeds dengan foto galeri seni nan artsy ? Yuk basuh lelah dan sosmedmu di Cemara 6 Galeri Museum !

Source :
https://lifestyle.bisnis.com/read/20140419/230/220532/ketika-cemara-6-galeri-menjadi-museum

Ditulis oleh Galuh Haris Septyana, Universitas Gadjah Mada, Prodi Pariwisata, pada program magang Genpinas tahun 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here