Kerang laut di Maluku ternyata bukan sembarang kerang. Tidak seperti kerang biasa, kerang laut berwarna putih tersebut dapat mengeluarkan bunyi. Kerang ini dikenal dengan nama Tahuri.

Cangkang kerang umumnya digunakan sebagai alat permainan, seperti congklak. Namun bagi masyarakat Maluku, kerang ini digunakan sebagai alat musik tradisional. Tahuri ini dimainkan dengan cara ditiup.

Baca juga:
* Tradisi Cuci Negeri Soya Bersihkan Hati Bersihkan Negeri

Tahuri (Sumber : indonesiakaya.com)

Tahuri berbahan dasar kulit kerang atau kulit bia yang merupakan hasil laut yang cukup menjadi komoditas utama di Maluku, khususnya Desa Bere-Bere. Meski awalnya dijadikan sebagai kerajinan tangan, namun kemudian kulit bia ini dikembangkan menjadi alat musik khas Maluku.

Alat musik endemik Maluku ini menggambarkan jati diri masyarakat Maluku itu sendiri. Dicetuskan oleh salah seorang gubernur, yakni Letkol G. Latumahina didukung oleh Dominggus P. Horhorouw, seorang pemimpin orkes suling Maluku maka Tahuri kini dikenal sebagai alat musik khas Maluku.

Kulit kerang ini pada awalnya didapat dari daerah Saumlaku, Dobo, Aru, bahkan hingga wilayah Banda. Pembuatan Tahuri pun sangat sederhana dan alami, dimulai dengan melubangi kulit bia.

Cukup dengan melubangi menggunakan bor maka akan keluar nada dari Tahuri ketika ditiup. Semakin kecil ukuran kerang, maka semakin tinggi dan nyaring suara yang keluar.

Sedangkan semakin besar ukuran kerang, maka suara rendah lah yang akan dihasilkan.

Selain ukuran kerang, besar kecil lubang yang dibuat juga mempengaruhi suara yang dihasilkan.

Opa Loli, pemimpin sanggar musik tradisional Tahuri (Sumber : IG @malukusatudarahofficial)

Konon keberadaan Tahuri ini telah ada sejak masa lampau. Kerang ini kerap digunakan sebagai alat komunikasi antara raja dengan rakyatnya. Tahuri ini akan ditiupkan ketika ada pemberitahuan bagi seluruh warga desa.

Terdapat beberapa makna dalam tiap tiupan Tahuri ini, salah satunya adalah tiupan satu kali yang menandakan ada warga yang meninggal dunia. Hingga kini, Tahuri kerap digunakan sebagai tanda pembukaan dan atau penutupan suatu upacara adat.

Alunan nada Tahuri selain untuk memanggil masyarakat, juga kerap dimainkan bersamaan dengan alat musik lain dalam bentuk orkestra. Biasanya anak-anak dan remaja yang akan memainkan Tahuri disertai dengan alat musik lain. Mari kita saksikan penampilan salah satu kelompok orkestra ini, Sobat GenPi,

Tahuri juga kerap diiringi dengan tarian adat, seperti Tari Cakalele. Tari Cakalele dikenal juga sebagai tarian perang khas Maluku. Penampilan tarian ini disertai dengan Tahuri melambangkan rasa keberanian dan pereskutuan masyarakat.

Dengan adanya perkembangan zaman, alunan nada Tahuri ini pun dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat menghasilkan nada yang selaras. Masyarakat setempat umumnya membuat Tahuri menjadi alat musik pengiring bersama alat Musik khas Maluku lainnya.

Penggunaan Tahuri juga dapat diikutsertakan dalam beberapa instrumen modern, seperti suling dan pianika dengan terlebih dahulu dicocokkan. Sejak perkembangannya pada 1958, Tahuri telah mengalami banyak perkembangan dan bahkan mulai dikenal masyarakat di luar Maluku.

Selain di Maluku, keberadaan Tahuri juga umum pada beberapa wilayah lain di sekitarnya seperti Kabupaten Biak, Papua. Kabupaten yang dikenal dekat dengan garis ekuator ini menggunakan Tahuri sebagai alat banru memanggil penduduk.

Tahuri di Kabupaten Biak juga kerap digunakan sebagai pengiring dalam beberapa tarian adat seperti di Maluku.

Bahkan sekarang terdapat Tugu Tahuri Persaudaraan di Kabupaten Maluku Tengah. Tugu ini didirikan sebagai simbol merawat kebhinekaan dari Maluku bagi Indonesia.

Pendirian tugu ini melukiskan rasa persahabatan dan persaudaraan mtak hanya masyarakat Maluku, tetapi juga Indonesia dalam keberagamannya.

Tugu Tahuri Persaudaraan (Sumber : https://www.kompasiana.com/)

Sobat GenPi, selain dikenal dengan pesona keindahan alamnya ternyata Maluku juga memiliki alat musiknya sendiri ya. Bahkan dari benda-benda sederhana, masyarakat maluku dapat membuat alat musik dengan keunikannya sendiri.

Baca juga:
* Alat Musik Sasando, Khas dari Pulau Rote NTT

Dari benda-benda di sekitar, kira-kira Sobat GenPi dapat membuat kreativitas seperti apa nih ?

(Penulis: Richmond Faithful, Universitas Terbuka, Peserta Magang GenPinas 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here