Alat Musik Sasando, Khas dari Pulau Rote NTT

foto gambar alat musik sasando pulau rote nusa tenggara timur ntt - Fakhri Anindita wikipedia
Sasando, alat musik tradisional daerah dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Fakhri Anindita/Wikipedia)

Alat musik sasando berasal dari daerah/kabupaten/provinsi mana? Dimainkan dengan cara bagaimana dan apa bedanya dengan kecapi? Bagaimana sejarahnya dan ada berapa jenis alat musik khas Nusa Tenggara Timur (NTT) ini?

Sasando adalah alat musik berdawai yang menghasilkan suara dengan cara dipetik. Sasando berasal dari Bahasa Rote. Asal katanya Sandu atau Sanu. Memiliki arti bergetar atau meronta.

Suara yang dihasilkan dari memetik sasando ada kemiripan dengan alat musik dawai gitar, biola, kecapi, dan harpa.

Menurut Organologi, Sasando termasuk dalam Sitar tabung Bambu.

Baca juga:
* 30 Tempat Wisata di Pulau Rote NTT, Tawarkan Pengalaman Seru

Sasando Dalam Uang Kertas Pecahan 5000

Sasando sebenarnya begitu populer di Indonesia. Terutama saat gamabr alat musik ini masuk dalam uang kertas pecahan Rp 5.000.

Uang bergambar sasando ini diterbitkan tahun 1992. Berlaku selama 2 tahun, hingga pada tahun 2016 uang tersebut ditarik dari peredaran.

Bentuk Alat Musik Sasando

foto gambar alat musik sasando pulau rote nusa tenggara timur ntt -  - COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Buisciter_van_bamboe_met_klankkast_van_lontarblad_TMnr_A-5383
(Sumber foto: wikipedia)

Sudah pernah melihat langsung bentuk alat musik asal pulau paling Selatan Indonesia ini? Atau mungkin pernah melihatnya di foto atau video yang tersebar di internet ya.

Yang jelas bentuk alat musik Sasando ini unik, berbeda dengan alat musik berdawai lain.

Bagian utama dari alat musik ini adalah berbentuk tabung bambu dengan panjang sekitar 7-80 centimeter. Terdapat bambu di bagian bawah yang berfungsi untuk memasang dan mengatur kencangnya dawai.

Di bagian tengah tabung bambu diberi ganjalan-ganjalan atau senda yang melingkar dari atas ke bawah. Mengenai dawai yang direntangkan dari atas ke bawah. Senda tersebut juga akan memengaruhi nada yang dihasilkan dalam setiap petikan dawai.

Melihat alat musik ini, kamu pasti memerhatikan adanya anyaman daun lontar berbentuk setengah bulatan. Bagian tersebut dinamakan ‘haik’ yang berfungsi untuk resonansi sasando.

Mengapa menggunakan daun lontar? Karena tanaman ini mudah sekali ditemukan di Pulau Rote. Sehingga sering digunakan untuk berbagai keperluan. Termasuk sebagai salah satu bahan pembuatan sasando.

Cara Memainkan Alat Musik Sasando

Sasando dimainkan dengan cara dipetik seperti kamu memainkan gitar atau kecapi. Selain bentuk, perbedaan kecapi dan sasando adalah susunan notasi yang tidak beraturan. Namun demikian lantunan sasando tetap terdengar merdu.

Cara memetiknya pun berlawanan dengan kedua tangan, kanan ke kiri dan kiri ke kanan. Tangan kiri memainkan bas dan melodi. Sedangkan tangan kanan memainkan accord.

Sama seperti gitar, kecapi, dan lainnya, kamu juga tidak sekadar asal petik saat memainkan sasando. Perlu perpaduan teknik dan perasaan agar melodi yang dihasilkan enak terdengar telinga.

Semakin sering memainkannya tentu akan semakin lentur dan lihai memainkan sasando. Baik memainkan lagu dengan irama lambat maupun irama cepat.

Sejarah / Asal Muasal Sasando

foto gambar alat musik sasando pulau rote nusa tenggara timur ntt - @piyoofficial_id KINGEBA Inc
(Foto: KINGEBA Inc via IG @piyoofficial_id)

Tidak ada habisnya ya membahas ragam budaya Nusantara yang selalu mengalir tanpa henti. Termasuk salah satunya adalah sasando yang konon sudah dimainkan sejak abad ke-7 di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Banyak cerita yang berkembang di masyarakat tentang asal muasal alat musik ini. Salah satu yang sering diceritakan adalah kisah pemuda bernama Sangguana.

Ada yang menngisahkan bahwa Sangguana adalah seorang pembantu kerajaan. Ada juga yang mengisahkan Sangguana adalah seorang yang terdampar di Pulau Ndana.

Menurut kisahnya, Sangguana terdampar di Pulau Ndana. Ia ditemukan oleh seorang penduduk yang kemudian dibawa ke penguasa pulau saat itu, Raja Takalaa.

Singkat cerita, Sangguana jatuh cinta kepada putri raja. Mengetahui hal tersebut raja tidak serta merta merestui Sangguana menjadi menantunya.

Raja menantang Sangguana untuk membuat satu alat musik yang berbeda dari yang sudah ada saat itu. Kalau sanggup, ia akan merelakan anaknya dipersunting oleh Sangguana.

Dalam prosesnya, tidaklah mudah bagi Sangguana untuk menciptakan alat musik baru. Satu saat ia tertidur dan bermimpi memainkan alat musik yang merdu.

Dari mimpi tersebut ia mendapat ilham atau ide membuat alat musik yang lalu ia namakan sasandu.

Alat musik sasandu ini ia tunjukkan dan mainkan di hadapan raja dan sang putri idamannya. Melihat keindahan dan mendengar merdunya sasandu, sang raja pun senang. Ia merelakan putri kesayangannya dipersunting oleh Sangguana.

Baca juga:
* Bergaya Ala Suku Abui di Desa Takpala NTT

Jenis Sasando

Sasando yang paling awal dikenal warga Pulau Rote adalah ‘Sasando Gong‘ yang berdawai tujuh. Nada-nada pentatoniknya menjadi hiburan untuk mengiringi tarian. Juga sebagai penghibur anggota keluarga yang baru saja dirundung duka.

Semakin hari mengikuti perkembangan zaman, sasando juga mulai berkembang menjadi beberapa model/jenis.

Sasando engkel adalah sasando dengan 28 dawai. Sasando dobel memiliki 56-84 dawai.

Pada akhir abad ke-18 muncul sasando biola yang suaranya bisa menyerupai suara biola. Sasando biola memiliki 30-36 dawai dan berbentuk mirip dengan sasando gong. Sasandi biola berkembang pesat di Kupang.

Sasando biola menghasilkan nada diatonis. Dengan ruang resonansi yang terbuat dari daun lontar dan juga ada yang dari bahan kayu atau multipleks.

Namun pada perkembangannya sasando biola dengan ruang resonansi lontar lebih disukai. Karena suara yang dihasilkan lebih bagus.

Kemudian muncul inovasi sasando elektrik pada tahun 1960. Dibuat oleh pemain sasando asal Kupang, Arnoldus Edon.

Sasando elektrik bisa menghasilkan suara petikan dawai yang lebih besar dan bisa dinikmati dari kejauhan. Jumlah dawai sasando elektriknya adalah 30 senar.

Lalu muncu inovasi lainnya berupa sasando bariton. Menggunakan senar berbeda sehingga menghasilkan suara yang lebih bulat dan tebal (bass). Dawai yang digunakan berjumlah 32 senar.

Kita Lestarikan Bersama!

foto gambar pemain cara memainkan sasando pulau rote nusa tenggara timur ntt - @siau_phin
(Foto: IG @siau_phin)

Indonesia ternyata begitu kaya akan keragaman seni dan budaya. Termasuk dalam hal alat musik tradisional daerah.

Selain kecapi dari Sunda dan Sape’ dari tanah Dayak, ternyata ada alat musik unik Sasando yang juga sangat unik. Unik bentuk dan bahannya dengan suara yang merdu.

Baca juga:
* Tenun Ikat Khas NTT, Magnet Dari Bumi Timur Indonesia

Satu budaya tradisional yang harus kita jaga dan lestarikan bersama ya.

Kamu sudah pernah melihat langsung cara memainkan alat musik Sasando khas Pulau Rote Nusa Tenggara Timur ini? Atau kamu sudah memilikinya di rumah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here